Tragis! Angka Bunuh Diri di Gunungkidul Capai 38 Kasus Setahun Ini

Pradito Rida Pertana - detikNews
Kamis, 09 Des 2021 14:59 WIB
Ilustrasi Bunuh Diri
Ilustrasi (Foto: detikcom/Thinkstock)
Gunungkidul -

Polres Gunungkidul, Daerah Istimew Yogyakarta, menyebut mulai awal tahun 2021 hingga hari ini ada 38 kasus bunuh diri. Dari jumlah tersebut, sebagian besar didominasi kasus gantung diri.

"Sampai bulan ini (Desember) sudah ada 38 kasus bunuh diri dengan rincian 37 gantung diri dan satu kasus bunuh diri dengan meminum racun," kata Kasubbag Humas Polres Gunungkidul Iptu Suryanto kepada wartawan, Kamis (9/12/2021).

Terkait daerah yang paling banyak menyumbang kasus bunuh diri, Suryanto menyebut ada tiga kapanewon yang masing-masing menyumbang empat kasus.

"Untuk kapanewon penyumbang kasus bundir (bunuh diri) terbanyak selama 2021 seperti Kapanewon Wonosari, Karangmojo dan Semin. Masing-masing dari wilayah tersebut dilaporkan ada empat kasus bundir," ujarnya.

Suryanto mengaku jumlah kasus tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2020 lalu. Pasalnya tahun lalu jumlah kasus tidak sampai menyentuh angka 30.

"Kasus bundir tahun ini naik signifikan dibanding tahun 2020 lalu. Karena tahun lalu ada 29 kasus bundir, rinciannya 26 gantung diri, dan tiga bundir dengan cara minum racun. Sedangkan untuk tahun ini masih awal Desember sudah 38 kasus," ucapnya.

Oleh sebab itu, pihaknya bersama Pemkab Gunungkidul terus melakukan upaya preventif bunuh diri terhadap kelompok masyarakat rentan. Upaya tersebut seperti halnya sosialisasi hingga pendampingan.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawaty menilai salah satu penyebab bunuh diri adalah gangguan kejiwaan. Terlebih, gangguan tersebut sulit terdeteksi.

"Jadi orang bundir itu pasti sebelumnya ada masalah kejiwaan, dan itu (masalah kejiwaan) memang sulit terdeteksi," kata Dewi.

Oleh sebab itu, dia meminta kepada masyarakat, khususnya dari kelompok rentan untuk mengelola kesehatan jiwanya dengan baik. Sebab kondisi yang stabil juga akan menjauhkan mereka dari potensi melakukan bunuh diri.

"Kuncinya ada di keluarga ditambah dengan lingkungannya. Karena hanya keluarga yang mampu menerima dan memperlakukan anggotanya yang mengalami gangguan jiwa dengan baik," ucap Dewi.

*) Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi kepada siapapun untuk melakukan tindakan serupa. Bagi Anda pembaca yang merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

(rih/ams)