Kisah Pasutri Pelihara Belasan Ekor Monyet yang Sakit-Tak Terawat

Achmad Syauqi - detikNews
Senin, 06 Des 2021 21:17 WIB
Petra dan Asri saat menerima hibah monyet dari pemadam kebakaran Pemkab Klaten, Senin (6/12/2021).
Petra dan Asri saat menerima hibah monyet dari pemadam kebakaran Pemkab Klaten, Senin (6/12/2021). Foto: Achmad Syauqi/detikcom
Klaten -

Pasangan suami istri (pasutri), Petra Harfanto (35) dan Asri (34), punya hobi unik. Keduanya mengadopsi dan merawat belasan monyet ekor panjang (macaca) yang sakit dan nasibnya mengenaskan dari berbagai wilayah.

"Di rumah ada 16 ekor, tambah satu dari Klaten hari ini jadi 17 ekor. Itu semua ada yang kita beli, ada dari damkar dan ada dari warga," ungkap Asri, pemilik rumah zona satwa, saat ditemui usai menerima penyerahan satu ekor monyet, di kantor pemadam kebakaran Pemkab Klaten, Senin (6/12/2021).

Saat berbincang, ibu satu anak tersebut tampak menggendong seekor monyet bertubuh kurus. Binatang tersebut mengenakan kaus dan celana penyerap air.

Asri tampak telaten menyuapi monyet tersebut dengan sendok berisi pisang. Primata yang sering dianggap hama itu pun sangat jinak seperti seorang bayi di pelukannya.

Asri menceritakan, awal ketertarikannya menampung monyet yang sengsara baru mulai awal 2020 lalu. Semula hanya iseng memelihara satu ekor.

"Awalnya itu lucu, saya saking pengin punya anak perempuan, lalu melihara satu. Tapi keterusan, sampai sekarang anak saya cuma satu, cowok," tutur Asri.

Menurut Asri yang tinggal di Pucungerjo, Muntilan, Magelang itu, dia dan suaminya bukan dari komunitas tapi relawan independen. Monyet-monyet di rumahnya itu sudah dianggap bagian dari keluarganya.

"Yang besar ada dan yang kecil ada. Kita tempatkan di tempat khusus, kita semua biayai sendiri merawat ini," jelas Asri.

"Kadang kasihan melihat mereka tidur di kandang. Suatu saat kami ingin punya mini zoo di rumah untuk merawat," imbuhnya.

Asri mengaku kadang iba melihat kondisi monyet yang diserahkan warga. Ada yang sakit dan tidak terawat, bahkan ada yang infeksi hingga luka parah dan ekornya patah.

"Kita seminggu lalu diserahi warga dua ekor yang dipelihara sejak kecil tapi pemiliknya bosan. Kondisinya sakit infeksi terlalu lama diikat, belum divaksin juga," ujarnya.

"Biasanya kita periksa, dibawa ke dokter atau divaksin rabies dulu. Selanjutnya kita rawat sampai sembuh tapi tidak kemudian dilepasliarkan," tambah Asri.

Suami Asri, Petra, mengatakan bahwa mayoritas monyet di rumahnya hibah dari warga. Ada yang dibeli di pasar dengan kondisi memprihatinkan.

"Dari warga kondisinya tidak selalu buruk cuma tidak terawat," kata Petra.

Biasanya setelah tiba dan dirawat di rumahnya, monyet tidak dilepas. Mereka dikumpulkan dulu agar terbentuk koloni.

Menurutnya, monyet paling menyedihkan yang pernah dievakuasi dengan kondisi luka parah dan patah tulang. Monyet bahkan menangis.

"Itu monyet dipelihara tapi dihajar pemiliknya sehingga jika malam menyerang. Kita ambil patah rahang, tulang ekor dan menangis, kita obati dengan biaya sendiri, obat tinggal ambil di apotek," jelas Petra yang juga pernah kuliah D3 Kedokteran Hewan itu.

(rih/rih)