Kisah Candi Borobudur: Sempat Terkubur di Semak Kini Jadi Warisan Dunia

Aditya Mardiastuti - detikNews
Senin, 06 Des 2021 20:02 WIB
Sebaran hujan abu yang mengguyur wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sampai mengenai bebatuan Candi Mendut, Pawon dan Candi Borobudur. Untuk di Candi Borobudur ketebalan abu sangat tipis sehingga penghitungan didapatkan 4,7 gram per meter persegi.
Candi Borobudur (Foto: Eko Susanto/detikcom)
Yogyakarta -

Candi Borobudur yang berlokasi di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, ditetapkan UNESCO sebagai bagian dari world heritage (warisan dunia). Candi ini mulai dibangun di era Wangsa Syailendra pada abad ke-7 Masehi.

Dikutip dari borobudurpark.com dan perpusnas.go.id, Candi Borobudur ditemukan pasukan Inggris pada 1814 di bawah pimpinan Sir Stanford Raffles. Candi Borobudur ini dibangun dengan gaya Mandala yang mencerminkan alam semesta dalam kepercayaan Buddha.

Ternyata sempat ada beda pendapat dari para pakar tentang penyebutan Borobudur. Dalam Kitab Negarakertagama (1365 M.) disebut-sebut tentang Budur, sebuah bangunan suci Buddha aliran Vajradhara. Menurut Casparis dalam Prasasti Sri Kahulunan (842 M) dinyatakan tentang 'Kawulan i Bhumi Sambhara'.

Berdasarkan hal itu ia berpendapat Barabudhur merupakan tempat pemujaan. Bumi Shambara adalah nama tempat di Barabudhur. Menurut Poerbatjaraka, Barabudhur berarti Biara Budur, sedangkan menurut Raffles, 'bara' berarti besar dan 'budhur' merupakan kata dalam bahasa Jawa yang berarti Buddha.

Berdasarkan tulisan yang terdapat di beberapa batu di Candi Barabudhur, para ahli berpendapat candi ini mulai dibangun sekitar tahun 780 M, pada masa pemerintahan raja-raja Wangsa Sanjaya. Pembangunannya memakan waktu berpuluh-puluh tahun dan baru selesai sekitar tahun 830 M, yaitu pada masa pemerintahan Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra.

Konon arsitek candi yang maha besar ini bernama Gunadharma, namun belum didapatkan informasi tertulis tentang tokoh ini. Pada tahun 950 M, Candi Barabudhur terkubur oleh lava letusan Gunung Merapi dan baru ditemukan kembali hampir seribu tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1814 oleh Sir Thomas Rafles.

Kala itu, Rafles mendapatkan informasi di daerah Kedu ditemukan tumpukan batu bergambar di sebuah bukit dekat Desa Boro. Setelah membabat semak belukar dan menggali serta membersihkan gundukan abu gunung berapi, mereka menemukan sejumlah besar bongkahan batu berpahatkan gambar-gambar aneh.

Raffles kemudian memerintahkan Cornelius, seorang Belanda, untuk membersihkan batu-batu tersebut. Pembersihan tumpukan batu dan lingkungan di sekitarnya kemudian dilanjutkan oleh Residen Kedu yang bernama Hartman.

Candi Barabudhur berdiri di atas bukit yang memanjang arah timur-barat. Candi ini dibangun dari balok batu andesit sebanyak 47,500 m3, yang disusun rapi tanpa perekat, dan dilapisi dengan lapisan putuh 'vajralepa', seperti yang terdapat di Candi Kalasan dan Candi Sari. Bangunan kuno Barabudhur berbentuk limas bersusun dengan tangga naik di keempat sisi, yaitu sisi timur, selatan, barat, dan utara. Konon di sisi timur, di bawah kaki candi, pernah ditemukan jalan naik ke atas bukit. Hal itu mendasari dugaan Candi Barabudhur menghadap ke timur dan pintu utama adalah yang terletak di sisi timur.

Selengkapnya di halaman berikutnya...