Pengakuan Bejat Pria Klaten Pemerkosa Gadis Bawah Umur Berkali-kali

Achmad Syauqi - detikNews
Kamis, 02 Des 2021 16:18 WIB
Ilustrasi Napi Transgender di Penjara Pria
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStock)
Klaten -

Pria inisial B (43) warga Klaten, Jawa Tengah, ditangkap polisi karena tega memperkosa gadis usia 11 tahun. Begini pengakuan bejat pelaku.

B mengaku melakukan memperkosa korban di dua wilayah yaitu Kabupaten Klaten dan Boyolali. Dirinya berdalih tahu jika perbuatannya melanggar hukum.

"Saya tidak tahu pak (melanggar hukum diancam 15 tahun). Saya katakan saya sayang sama dia, kalau hamil saya siap tanggung jawab," kata B saat dihadirkan dalam jumpa pers di Polres Klaten, Kamis (2/12/2021).

Pelaku mengaku dirinya punya keluarga dan dua orang anak. Namun sudah pisah dengan keluarga selama lima tahun.

"Saya punya keluarga cuma sudah lima tahunan pisah. (Korban) Saya ajak dengan bujuk rayu, sambil saya ajak jajan di warung," ujarnya.

B mengungkapkan juga punya anak perempuan dari perkawinannya. Saat ditanya bagaimana jika anaknya diperlakukan sama, dia mengaku sakit hati.

"Ya sakit hati pak (kalau anaknya diperlakukan seperti korban). Saya menyesal, tidak akan mengulangi," imbuh B.

Diberitakan sebelumnya, pria inisial B (43) warga Kecamatan Karanganom, Klaten, Jawa Tengah, ditangkap polisi karena tega memperkosa gadis usia 11 tahun.

"Ada tujuh kali dengan tujuh lokasi kejadian," kata Kasi Humas Polres Klaten Iptu Abdillah saat jumpa pers di Mapolres Klaten, Kamis (2/12).

Modus pelaku dengan bujuk rayu kepada korban. Pelaku menjanjikan akan bertanggung jawab jika korban sampai hamil.

"Modusnya adalah dengan bujuk rayu pada korban. Pelaku membujuk rayu dengan kata 'aku sayang karo kowe, aku gelem tanggung jawab yen kowe hamil (aku sayang sama kamu, aku mau tanggung jawab jika kamu hamil)," ungkapnya.

"Keduanya tidak ada hubungan keluarga. Pelaku kenal korban karena bekerja di dekat rumah korban," lanjutnya.

Kasus itu terungkap setelah ibu korban curiga anaknya pulang malam. Setelah ditanya, korban mengaku pergi dengan tersangka. Pihak keluarga akhirnya melapor ke polisi.

Pelaku kini dijerat Undang-Undang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun.

(rih/ams)