Hore! 71 Ekor Jalak Bali Dilepasliarkan ke Pulau Dewata

Achmad Syauqi - detikNews
Rabu, 01 Des 2021 14:26 WIB
BKSDA Jateng mengirimkan 71 burung jalak Bali dari para penangkar di Klaten ke Pulau Dewata. Burung jalak ini rencananya akan dilepasliarkan di Bali Barat.
Burung Jalak Bali (Foto: Achmad Syauqi/detikcom)
Klaten -

Sebanyak 71 ekor burung jalak Bali dikirim ke Pulau Bali oleh Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Jawa Tengah. Puluhan burung jalak Bali itu berasal dari para penangkar di Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes, Klaten, Jawa Tengah.

"Hari ini kita melaksanakan restocking (mengembalikan) jalak Bali yang keempat ke Taman Nasional Bali Barat. Hari ini berangkat, tanggal 3 Desember sampai Bali, sebanyak 71 ekor," ujar Kepala BKSDA Jateng Darmanto, usai bertemu para penangkar di Balai Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes, Klaten, Rabu (1/12/2021).

Darmanto menerangkan restocking itu merupakan kegiatan yang keempat. Selama empat tahun terakhir total ada 180 ekor burung jalak Bali yang dikirim ke Pulau Dewata.

"Restocking ini kewajiban bagi penangkar. Selama empat tahun terakhir ini sudah 180 curik (jalak) Bali kita kembalikan ke habitatnya," sambung Darmanto.

Sebelum dikirim ke Bali, terang Darmanto, burung itu sudah mendapatkan pelatihan dan dikarantina. Sehingga diharapkan burung itu siap ketika dilepasliarkan ke habitatnya di Bali barat.

"Sudah diperiksa di Dinas Kesehatan dan balai karantina kesehatan. Nanti sampai sana juga dimasukkan karantina dan diberikan pelatihan," sebut Darmanto.

Darmanto mengatakan para penangkar wajib melepasliarkan burung jalak sebanyak 10 persen dari total yang ditangkarkan. Total penangkar Jalak Bali di Jateng 389 orang.

"Total penangkar jalak Bali di Jateng 389 orang. 63 persen penangkaran ada di Klaten atau 253 orang, ada yang dua pasang, 2, 10 dan beberapa pasang," sambung Darmanto.

Darmanto menyebut ke-71 burung jalak yang dilepasliarkan itu bernilai ratusan juta. Meski begitu, dia meminta pelepasliaran burung itu tidak dinilai dari sisi materi.

"Kalau Rp 3 juta saja satu pasang, maka nilainya Rp 280 juta yang kita kembalikan. Bukan nilai uangnya yang kita hitung, tapi nilai konservasinya sehingga bisa menetas 35 pasang itu bisa menghasilkan berpasang-pasang lainnya sehingga tidak punah," imbuh Darmanto.

Darmanto mengatakan dirinya sudah menghitung nilai perputaran uang di Klaten terkait penangkaran jalak. Menurut perhitungannya ada sekitar Rp 12 miliar.

"Efek dari penangkaran ini sudah saya hitung, total pendapatan penangkaran di Klaten Rp 12 miliar per tahun. Dihitung dari sertifikat, tenaga kerja, penjual jangkrik, penjual pakan dan lainnya," tutur Darmanto.

Salah seorang penangkar warga Desa Jimbung, Edhi Santosa, mengatakan tahun ini ada tiga ekor jalaknya ikut dikirim ke Bali. Tahun sebelumnya ada enam ekor.

"Saya tahun ini 3 ekor, tahun lalu 6 ekor, ternak sejak 2015. Ya bagus dikirim ke Bali, jadi tidak punah di habitatnya di Bali," ungkap Edhi pada wartawan.

(ams/rih)