Sudah Tahu Belum? Ada Museum Satwa hingga Sandi di Yogyakarta

Tim detikcom - detikNews
Senin, 29 Nov 2021 18:35 WIB
Museum Sandi di Yogyakarta.
Museum Sandi di Yogyakarta. (Foto: dok website Badan Siber dan Sandi Negara)
Yogyakarta -

Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki belasan museum dengan kisah dan sejarahnya masing-masing. Ada daftar belasan museum di Kota Pelajar yang bisa dikunjungi.

Berikut ini daftar museum di Yogyakarta berdasarkan data Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, beserta profil singkatnya:

1. Museum Taman Pintar Yogyakarta

Taman Pintar Yogyakarta diresmikan pada tahun 2006. Dilansir melalui website resminya tamanpintar.co.id, disebut Taman Pintar karena kawasan ini diharapkan menjadi tempat bagi siswa dan anak-anak pra-sekolah bisa leluasa memperdalam pemahaman soal materi pelajaran sekaligus berekreasi. Taman Pinter berada di Jalan Panembahan Senopati No 1-3 Yogyakarta.

Taman Pintar juga memiliki Planetarium pertama di Indonesia yang menggunakan digital projector. Selain itu ada beberapa wahana di antaranya zona pengolahan sampah, science theater, gedung kotak, dan gedung oval.


2. Museum Benteng Vredeberg

Benteng Vredeburg Yogyakarta berada di kawasan Nol Kilometer pusat Kota Yogyakarta. Dalam website resminya vredeburg.id, dijelaskan benteng ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan kuno peninggalan zaman Belanda seperti Gedung Agung (bekas rumah residen), gereja Ngejaman (GPIB Margamulya), bekas Senisono (menyatu dengan Gedung Agung), kantor BNI 1946, kantor Pos, kantor Bank Indonesia dan Societeit Militaire.

Sejak awal berdiri hingga saat ini, Benteng Vredeburg mengalami beberapa kali pengelolaan. Atas permintaan Belanda pada tahun 1760, Sri Sultan HB I membangun benteng yang sederhana berbentuk bujur sangkar. Pada tahun 1767 pada masa kedudukan W.H Ossenberch diusulkan agar benteng diperkuat menjadi bangunan yang lebih permanen. Pembanguan benteng baru selesai pada tahun 1787 dan diberi nama dengan Rustenburg yang berarti Benteng Peristirahatan. Pada
masa ini benteng dimanfaatkan oleh Belanda (VOC). Hingga berjalannya waktu, benteng ini berganti nama menjadi Vredeburg yang berarti Benteng Perdamaian.

Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1949, Belanda melancarkan agresi Militer II dan merebut beberapa bangunan penting termasuk Benteng Vredeburg. Setelah peristiwa penarikan mundur tentara Belanda dari Yogyakarta yang dikenal dengan Jogja Kembali 29 Juni 1949, Benteng Vredeburg dikuasai kembali oleh pemerintah Indonesia.


3. Museum Biologi UGM

Museum ini terletak di Jalan Sultan Agung Yogyakarta. Dilansir di website museum.biologi.ugm.ac.id, Museum Biologi UGM termasuk kategori museum khusus, yakni museum khusus pendidikan, dengan fokus pendidikan hayati. Koleksi Flora berupa herbarium basah dan kering.

Museum Biologi UGM memiliki beberapa koleksi fauna berupa awetan basah, taksidermi dan kerangka. Tak hanya berasal dari dalam negeri, koleksi museum ini juga berasal dari luar negeri

Beberapa koleksi merupakan fauna langka dan wajib dilindungi seperti komodo, harimau, beruang madu, trenggiling, burung cenderawasih dan burung elang.

Beberapa koleksi fauna ditampilkan dalam sejumlah diorama tematik yang menggambarakn kondisi habitat mereka di alam. Ada juga koleksi kerangka gajah Nyi Bodro yang berasal dari Keraton Yogyakarata Hadiningrat, badak jawa, dugong, kuda dan waladi merupakan sebagian koleksi kerangka unggulan Museum Biologi UGM.

4. Museum Bahari

Museum Bahari berada di Jalan RE Marta Dinata 69, Wirobrajan, Yogyakarta. Dikutip dari website bahari.museum.jogjaprov.go.id, museum ini diprakarsai oleh prajurit TNI AL, Laksamana Madya TNI Yosafat Didik Heru Purnomo dan diresmikan pada 25 April 2009.

Berkunjung ke Museum Bahari Yogyakarta, para pengujung dapat menikmati seluk beluk tentang dunia maritim. Pengunjung dapat mengetahui secara details isi anjungan kapal perang dan film dokumenter sejarah TNI AL. Selain itu, pengunjung juga dapat melihat koleksi kelautan dan pertahanan laut berupa meriam, bom laut, torpedo, alat selam, telegraf, miniatur kapa, peta laut dunia, jangkar dan replika kapal beserta komponen-komponen di dalamnya.

5. Museum Perjuangan Yogyakarta

Dilansir di website Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, pariwisata.jogjakota.go.id, Museum Perjuangan Yogyakarta merupakan penanda sejarah pentingnya Hari Kebangkitan Nasional yang diprakarsai oleh Dr Sutomo pada tanggal 20 Mei 1908. Pada tanggal tersebut lahir sebuah pergerakan Budi Utomo yang didirikan Dr Sutomo bersama dengan para mahasiswa STOVIA Jakarta yang dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Peletakan batu pertama pembangunan museum ini dilakukan oleh Sri Paku Alam VIII pada 29 Juni 1961. Pembangunannya selesai pada tahun 1963.

Gedung Museum Perjuangan Yogyakarta memadukan gaya arsitektur zaman kekaisaran Romawi Kuno dan bentuk candi di bagian bawahnya. Bentuk bangunan melingkar seperti silinder yang dikenal dengan istilah Ronde Tempel. Sedangkan atap gedung museum menyerupai topi baja dengan 5 buah bambu runcing berdiri di atas bola dunia.

Pengunjung bisa melihat interior gedung ini dipenuhi dengan jendela sebagai jalur cahaya matahari yang berjumlah 45 buah. Pada salah satu sudut dari ruangan ini, terdapat anak tangga menuju lantai dasar yang sempat dimanfaatkan sebagai Museum Sandi Negara.

Di lantai utama ini, terdapat banyak koleksi pernak-pernik perjuangan mulai dari meja dan peralatan makan yang pernah dipakai Presiden Soekarno, selain itu terdapat peninggalan sepeda tua, alat komunikasi radio perjuangan, dan tas milik Bung Hatta.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya...