ODGJ di Brebes Ini 15 Tahun Dirantai, Keluarga Terbentur Biaya Berobat

Imam Suripto - detikNews
Senin, 29 Nov 2021 17:48 WIB
Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Brebes, Ahmad Rifai (52), sudah 15 tahun hidup dirantai, Senin (29/11/2021).
Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Brebes, Ahmad Rifai (52), sudah 15 tahun hidup dirantai, Senin (29/11/2021). Foto: Imam Suripto/detikcom
Brebes -

Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Ahmad Rifai (52), sudah 15 tahun hidup dalam belenggu rantai. Keluarga mengaku pasrah dengan kondisi tersebut karena tidak memiliki biaya pengobatan.

Pria dengan gangguan jiwa ini merupakan warga Desa Kedunguter, Kecamatan Brebes. Rifai harus menghabiskan waktu seorang diri di kamar rumahnya dengan tangan dan kaki dirantai. Keluarga terpaksa membatasi ruang geraknya agar tidak mengganggu warga lain.

Rifai mengalami gangguan jiwa setelah lulus dari pendidikan menengah atas di Cirebon. Ia lulus tahun 1990, kemudian membantu orang tuanya sebagai petani.

Orang tua Ahmad Rifai, Rusbad (83), menuturkan Rifai merupakan anak keempatnya. Ia sudah kehabisan biaya untuk pengobatan anaknya yang mengalami gangguan jiwa selama belasan tahun. Pengobatan sudah dilakukan mulai dari pengobatan alternatif, spiritual, hingga pengobatan medis ke dokter saraf.

"Sudah ke mana-mana untuk berobat, tapi belum sembuh. Pernah dulu dikasih obat tapi seminggu atau dua minggu kemudian kambuh lagi," kata Rusbad, Senin (29/11/2021).

Rusbad mengaku, pengobatan Rifai dilakukan secara mandiri tanpa ada bantuan pemerintah. Terlebih, Rifai tak memiliki jaminan kesehatan dari pemerintah. Bahkan, untuk identitas kependudukan hingga saat ini Rifai belum memilikinya.

"Karena khawatir mengganggu tetangga terpaksa dirantai. Ini sudah 15 tahun. Selama itu sudah berkali-kali berobat pakai uang sendiri, wong dia tidak punya KTP, apalagi BPJS," jelasnya.

Sementara itu Kepala Desa Kedunguter, Edi Sutrisno, mengatakan lantaran Rifai belum memiliki KTP, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Dinas Pendudukan dan Catatan Sipil (Dindukcapil) Brebes. Selanjutnya pihaknya akan membuatkan BPJS untuk pengobatan Rifai.

"Kami akan cek dulu datanya di Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK), kemudian nanti berkoordinasi dulu dengan Dindukcapil untuk membuatkan KTP," kata Edi.

Edi menyebut pihaknya selama ini sudah berupaya untuk membantu pengobatan Rifai. Namun dari upaya itu belum ada hasil positif. Sehingga, Rifai saat ini masih mengalami gangguan jiwa.

"Jadi bukannya kami tidak memperhatikan dan tidak berupaya untuk kesembuhan warga kami sendiri, tapi memang ini sakitnya sudah lama. Jadi keluarga ada rasa lelah mengurus pengobatannya," imbuhnya.

Simak juga 'Target Kesehatan Mental di Indonesia: ODGJ Berat Dapatkan Pelayanan':

[Gambas:Video 20detik]



(rih/ams)