7 Daftar Museum di Yogyakarta yang Wajib Dikunjungi, Cek Lur!

Tim detikcom - detikNews
Senin, 29 Nov 2021 18:16 WIB
Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman Yogyakarta.
Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman Yogyakarta. (Foto: dok website Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta)

4. Museum Sonobudoyo

Ada dua unit Museum Sonobudoyo yang masing-masing berada di Jalan Trikora No 6 dan Jalan Wijilan Ndalem Condrokiranan, Yogyakarta. Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta menyampaikan informasi, museum ini merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah pada Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Museum Sonobudoyo berada di pusat kota yang strategis, di dalam lingkungan Pusat Budaya Yogyakarta. Bangunan Museum Sonobudoyo didesain oleh Ir Th Karsten berupa rumah joglo dengan arsitektur masjid keraton Kesepuhan Cirebon. Museum ini diresmikan pada tanggal 6 November 1935 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dengan ditandai Candrasengkala 'Kayu Winayang Ing Brahmana Budha'.

5. Museum Puro Pakualaman

Museum ini khusus menyajikan segala hal yang terkait dengan budaya dan sistem pemerintahan Kadipaten Pakualaman. Museum Puro Pakualaman menempati tiga ruang pameran tetap yang masing-masing berukuran 8x14 m di depan pendopo sayap timur kompleks Puro Pakualaman. Untuk memasuki komplek tersebut pengunjung harus melewati gerbang yang disebut Regol Wiworo Kusuma Winayang Reko yang berarti keselamatan keadilan dan kebebasan.

Koleksi yang disimpan di museum yang terletak di Jalan Sultan Agung ini antara lain naskah-naskah termasuk terjemahan perjanjian politik sebagai dasar berdirinya Kadipaten Pakualaman, foto-foto dokumentasi, serta peralatan dapur. Selain itu terdapat wisata kerajaan seperti Singgasana Sri Paku Alam I, payung kebesaran Songsong Bhara dan Songsong Tunggul Naga, tombak dan perisai yang digunakan dalam tarian Bondoyudho, serta busana kebesaran Raja-raja Pakualaman. Terdapat juga koleksi kereta kerajaan, di antaranya kereta bernama Kyai Roro Kumenyar dan Kyai Manek Koemolo yang digunakan untuk upacara penobatan Paku Alam yang baru.

6. Museum Dewantara Kirti Griya

Museum ini menyimpan kisah peninggalan Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara. Terletak di Jalan Taman Siswa No 31, Yogyakarta, museum ini digagas oleh Ki Hadjar Dewantara. Dia menginginkan tanah yang pernah menjadi tempat tinggalnya itu dijadikan museum.

Awalnya bangunan dan tanah itu merupakan milik seorang wanita pengusaha tanah perkebunan Belanda yang dibeli oleh Ki Hadjar Dewantara, Ki Sudarminto, dan Ki Supratolo pada 14 Agustus 1934 seharga 3.000 Gulden. Bangunan itu kemudian menjadi kompleks perguruan Taman Siswa sekaligus tempat tinggal Ki Hadjar Dewantara setelah dihibahkan kepada Yayasan Persatuan Tamansiswa pada tanggal 18 Agustus 1951.

Pada tanggal 3 November 1957, Ki Hadjar Dewantara berpindah tempat tinggal di Jalan Kusumanegara No 31 yang diberi nama Padepokan Ki Hadjar Dewantara. Museum Dewantara Kirti Griya diresmikan pada tanggal 2 Mei 1970 oleh Nyi Hadjar Dewantara.

Ada lebih lebih dari 3.000 koleksi di museum ini. Mulai dari perabot rumah tangga, naskah, foto, koran, buku, majalah dan surat-surat.

7. Museum Dr Yap Prawirohusodo

Museum mata ini terletak dalam kompleks RS Mata Dr Yap, Jalan Jl Cik Di Tiro, Kota Yogyakarta. Museum ini dirikan untuk mengenang jasa dari Dr Yap Hong Tjoen seorang ophthalmologist atau dokter spesialis mata yang terkenal sejak masa Pemerintahan Hindia Belanda.

Dr Yap Hong Tjoen merupakan angkatan pertama pelajar Tionghoa yang bersekolah di Universitas Leiden Belanda dan lulus pada tahun 1919. Pada tahun 1922, Dr Yap kembali ke Yogyakarta dan mendirikan rumah sakit mata Prinses Juliana Gasthuls voor Ooglijders. Sosoknya dikenal sebagai dokter yang humanis dan berjiwa sosial tinggi.

Selain mendirikan rumah sakit, Dr Yap juga mendirikan Balai Mardi Wuto pada 12 September 1926. Balai Mardi Wuto adalah lembaga sosial yang fokus pada pembinaan tunanetra.

Dr Yap kemudian menyerahkan kepengurusan rumah sakit dan Balai Mardi Wuto kepada putranya dr Yap Kie Tiong yang sejak awal telah digadang-gadang untuk menjadi penerusnya. Museum Dr Yap diresmikan oleh Sultan Hamengkubuwono X pada tahun 1997. Sejumlah koleksi museum ini terdiri dari berbagai alat kesehatan yang pernah digunakan oleh rumah sakit dan barang-barang koleksi Dr Yap Hong Tjoen dan dr Yap Kie Tong seperti buku, alat elektronik, keramik, porselen, dan lukisan.


(sip/ams)