Round-Up

'Sex Mountain' yang Mendunia Itu Kini Bersolek Jadi The New Kemukus

Andika Tarmy - detikNews
Senin, 29 Nov 2021 07:40 WIB
Pemkab Sragen Jawa Tengah tengah berupaya mengikis stigma ritual seks yang selama ini melingkupi obyek wisata Gunung Kemukus. Dana Rp 48 miliar digelontorkan pemerintah pusat demi menata obyek wisata ini menjadi The New Kemukus berkonsep wisata ziarah dan keluarga.
Penampilan baru di Gunung Kemukus, Sragen. (Foto: Dok. Kominfo Kabupaten Sragen)
Sragen -

Objek wisata Gunung Kemukus pernah membuat heboh hingga menjadi sorotan media asing dengan sebutan 'Sex Mountain' pada akhir 2014 silam. Sejak saat itu, stigma ritual seks bebas pun makin nempel pada objek wisata yang terletak di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah ini.

Situs berita dailymail salah satunya saat itu memuat berita terkait Gunung Kemukus pada 18 November 2014 lalu. Berita itu menggambarkan Gunung Kemukus sebagai Gunung Seks, di mana peziarah harus melakukan ritual seks agar keinginannya dikabulkan.

Saat itu pula, detikcom sempat mewawancarai salah seorang warga yang pernah datang ke lokasi wisata ini, Adi namanya. Menurutnya, ada sebagian yang percaya bahwa melakukan ritual seks dengan bukan pasangan resminya di kawasan tersebut merupakan jalan mendapatkan kekayaan.

"Ya sempat ketemu mbak-mbaknya (PSK). Sudah tua-tua. Di atas 40 tahun," kata Adi saat berbincang dengan detikcom, Selasa (25/11) lalu.

Adi yang berusia sekitar 40-an tahun saat itu menjelaskan para PSK tetap dicari hanya karena ada mitos tentang ritual seks. Sebagian orang yang datang ke Gunung Kemukus kala itu memang orang yang mempercayai ritual seks dengan perempuan di kawasan tersebut merupakan jalan mendapatkan kekayaaan.

Para PSK saat itu berjumlah puluhan dan dilindungi germo. Mereka melayani pelanggan di gubuk-gubuk non permanen. Berapa tarif mereka? "Puluhan ribu. 50-an (Rp 50 ribu)," ungkap Adi.

Dalam catatan detikcom, sorotan media asing ini membuat pemerintah setempat kebakaran jenggot. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, bahkan menyebut praktik ritual seks ini sebagai aliran sesat dan akan segera melakukan penertiban di wilayah itu.

"Apakah kita membolehkan prostitusi bebas dan aliran sesat?" kata Ganjar, Selasa (25/11/2014).

Ganjar mewanti-wanti, yang dia tertibkan adalah prostitusi bukan para peziarah ke kawasan itu.

"Apakah ritual seks bebas diizinkan? Ziarah silakan, ritual seks bebas jangan," tegas Ganjar.

Menurut Ganjar, seharusnya wisata di Gunung Kemukus merupakan wisata religi, namun terjadi penyimpangan bahkan menjadi prostitusi terselubung. Oleh sebab itu pihaknya ingin melibatkan tokoh masyarakat dan agama untuk menyingkirkan penyimpangan wisata di Gunung Kemukus.

"Sebenarnya religi, ada PAD-nya. Saya intinya sampaikan saja, ziarah silakan tapi ritual seks jangan. Sudahlah, kalau ritual seks jangan, maka yang menyimpang itu saja yang dibersihkan, saya ingin ajak seluruh tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk bisa terlibat," terangnya.

Bupati Sragen kala itu, Agus Fatchurrachman, setuju dengan usulan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Agus akan segera melakukan langkah membersihkan Gunung Kemukus dari upacara sesat ritual seks.

"Kalau Pak Gubernur mau gitu, ya cocok saya. segera kita wujudkan," kata Agus, Selasa (25/11).

Medio Desember 2014, Pemkab Sragen mulai menutup lokasi persewaan karaoke di sekitar lokasi Kemukus. Jumlahnya tak tanggung-tanggung, lebih dari 60 tempat.

Tempat yang dipakai biasanya di warung-warung atau di rumah penduduk. Di tempat itulah biasanya transaksi seks dilakukan pengunjung dengan perempuan-perempuan penghibur yang sudah mangkal di tempat itu.

"Seperti janji saya sebelumnya. Kita tidak boleh gegabah menangani kasus prostitusi di Gunung Kemukus karena karakternya beda dengan lokalisasi. Di sini prostitusi itu hanyalah penumpang gelap dari ritual tradisi ziarah. karena itu yang kami lakukan adalah, menutup semua celah terjadinya prostitusi namun tetap menjaga kelangsungan tradisi ziarahnya," ujar Agus dihubungi detikcom, Jumat 5 Desember 2014.

Penanggungjawab Objek Wisata Gunung Kemukus, Marcelo Suparno, menjelaskan stigma ritual seks bebas tersebut terjadi akibat adanya pembelokan mitos oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Mitos yang selama ini disalahartikan yakni adanya keyakinan bahwa apabila ingin permohonannya terkabul, maka orang yang datang ke Makam Pangeran Samudro harus melakukan ritual berhubungan intim.

Bukan sekadar berhubungan intim, mitos tersebut menyebutkan hubungan ini harus dilakukan dengan lawan jenis yang bukan suami atau istrinya pada malam Jumat Pon. Agar permintaannya terwujud, ritual ini harus dilakukan selama tujuh kali berturut-turut setiap malam Jumat Pon (tujuh lapan).

"Hanya orang-orang yang tidak bertanggungjawab yang bilang harus melakukan (ritual) itu. Menurut saya mitos itu sengaja dihembuskan sebagian kalangan untuk mengeruk keuntungan," ujar Suparno, saat dihubungi detikcom, Minggu (28/11).

Betapa tidak, lanjutnya, dengan adanya mitos tersebut, prostitusi mulai tumbuh di kawasan wisata Gunung Kemukus. Bahkan pada akhirnya tumbuh warung-warung yang menjajakan jasa karaoke sebagai kedok.

"Kita tidak memungkiri (adanya prostitusi terselubung). Tapi itu di kawasannya saja, tapi untuk objek wisatanya tidak ada prostitusi atau apapun yang melenceng dari agama," jelas Suparno.

Selanjutnya: Rp 48 miliar untuk mengubah wajah Gunung Kemukus