Melihat Jejak Soeharto di Masjid Klaten

Achmad Syauqi - detikNews
Sabtu, 27 Nov 2021 17:11 WIB
Masjid yang diresmikan oleh Presiden ke-2 RI Soeharto di Kecamatan Delanggu dan Wonosari Klaten
Masjid yang diresmikan oleh Presiden ke-2 RI Soeharto di Klaten (Foto: Achmad Syauqi/detikcom)
Klaten -

Di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah ada tiga masjid yang memiliki prasasti peresmian yang ditandatangani Presiden ke-2 RI, Soeharto. Dua di antaranya ada di tepi Jalan Raya Kecamatan Delanggu dan Wonosari.

Di Kecamatan Delanggu, prastasti masjid yang diteken Soeharto itu terletak di tepi Jalan Yogya-Solo, Desa Banaran. Masjid dengan nama masjid At Ta'awun di lahan seluas sekitar 3.000 meter itu menyatu dengan kantor KUA.

Luas bangunannya sekitar 400 meter dengan halaman cukup luas. Di depan masjid terlihat dipenuhi antrean truk dan bisa parkir yang beristirahat.

Masjid yang berbentuk joglo tersebut memiliki ciri khas yang berbeda dari masjid lain. Ciri khas itu terletak pada menara yang tanpa kubah namun diganti tulisan Allah yang dibingkai kotak lima sudut.

Kotak dengan lima sudut itu juga menjadi bentuk kusen jendela dan pintunya. Di tembok samping bagian dalam, terdapat prasasti batu pualam.

Prasasti itu dengan mudah dibaca setiap jemaah. "DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA MASJID INI DIBANGUN OLEH DAN MERUPAKAN SUMBANGAN DARI YAYASAN AMALBAKTI MUSLIM PANCASILA DIRESMIKAN PADA TANGGAL 09 MEI 1986 YAYASAN AMALBAKTI MUSLIM PANCASILA, KETUA, SOEHARTO," demikian tulisan prasasti tersebut.

Salah seorang takmir Masjid At Ta'awun, Anwar, menyebut masjid yang dibangun di era Orde Baru itu masih terawat. Masjid itu pun ramai didatangi jemaah.

"Jemaah tetap ramai, masjid ini tidak pernah sepi dari para musafir. Terutama sopir kendaraan lintas kota," ungkap Anwar pada detikcom, Sabtu (27/11/2021).

Anwar menerangkan umat Islam boleh berkegiatan ibadah dan pengajian di masjidnya. Dia menyebut tidak ada afiliasi dengan ormas, mazhab atau aliran tertentu.

"Semua elemen dirangkul, semua ormas boleh berkegiatan disini. Tidak ada condong ini atau itu, " jelas Anwar.

Sebelum ada pandemi COVID, imbuh Anwar, kegiatan pengajian atau kajian ramai. Tetapi setelah pandemi sementara dihentikan.

"Karena ada pandemi pengajian tidak ada. Masjid ini jadi jujugan musafir, 24 jam, sekadar salat atau mandi," terang Anwar.

Selengkapnya di halaman berikut...