Suksesi Mangkunegaran, Siapa yang Bakal Dapat Wahyu Keprabon?

Ari Purnomo - detikNews
Jumat, 26 Nov 2021 18:41 WIB
Diskusi Menyoal Suksesi di Pura Mangkunegaran, Wahyu Keprabon untuk Siapa? di Solo, Jumat (26/11/2021).
Diskusi 'Menyoal Suksesi di Pura Mangkunegaran, Wahyu Keprabon untuk Siapa?' di Solo, Jumat (26/11/2021). Foto: Ari Purnomo/detikcom
Solo -

Suksesi Pura Mangkunegaran semakin ramai dibicarakan usai 100 hari mangkatnya KGPAA Mangkunegara IX. Setidaknya ada tiga nama yang digadang-gadang bakal menjadi penerus KGPAA Mangkunegara IX, yakni GPH Paundrakarna Jiwa Suryanegara, GPH Bhre Cakrahutomo Wirasudjiwo dan juga cucu Raja Mangkunegara VIII yakni KRMH Roy Rahajasa Yamin.

Dari ketiga calon tersebut, siapa yang akan mendapatkan wahyu keprabon untuk meneruskan takhta di Mangkunegaran?

Pakar budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Prof Dr Andrik Purwasito menjelaskan bahwa orang yang akan menerima wahyu keprabon mempunyai ciri tersendiri.

"Ciri-ciri orang yang akan ketiban wahyu keprabon wajahnya bercahaya. Wahyu ini tidak akan jatuh pada sembarangan orang," ujar Andrik saat menjadi pembicara dalam diskusi 'Menyoal Suksesi di Pura Mangkunegaran, Wahyu Keprabon untuk Siapa? di Hotel Kusuma Sahid, Solo, Jumat (26/11/2021).

Menurut Andrik, cahaya yang dimaksud adalah sinar kebiru-biruan yang terpancar dari wajah calon penerus takhta tersebut.

"Sinar itu menuju pada siapa yang dipilih. Syaratnya penerima wahyu juga harus punya wadah, kalau tidak ya tidak mungkin bisa menerimanya," tuturnya.

Tanda-tanda itu, kata Andrik, sudah ada dalam sejarah Jawa. Di mana siapapun yang akan menerima wahyu untuk menjadi pemimpin akan menunjukkan tanda-tanda tersebut.

"Selama ini dari sejarah Jawa yang muncul adalah wajahnya bersinar, itu dia punya wadah yang nanti itu seperti tumbu (wadah dari bambu) dapat tutup, kalau keris bilah dengan warangkanya ada kesatuan," ucap Andrik.

"Saya melihat dari calon itu kayaknya ada yang bersinar tapi saya tidak akan mengungkapnya," tutur dia.

Dalam kesempatan yang sama pengamat sejarah dan budaya, Raden Surojo menjelaskan suksesi Mangkunegaran ini memang berbeda dengan Keraton Kasunanan Solo. Di mana jika dalam Keraton rajanya harus dari keturunan yakni putra dari raja sebelumnya, sementara untuk Mangkunegaran tidak demikian.

"Misalkan Mangkunegara II yang bukan putra dari Mangkunegara I, sebagai pertimbangannya ayahnya meninggal sebelum putranya dewasa," urai Surojo.

Surojo melanjutkan, yang paling terlihat adalah suksesi Mangkunegara V ke VI. Menurutnya, suksesi tersebut sangat rasional.

"Mangkunegara VI dilantik ketika pada Mangkunegara V tengah dilanda krisis ekonomi. Saat itu Mangkunegara IV sudah merintis industri, pola berpikirnya sudah sangat maju. Kepala pemerintahan dan entrepreneur," tuturnya.

Menurut Surojo, salah satu syarat yang harus dimiliki oleh Mangkunegara X adalah tidak meninggalkan tradisi tetapi juga bisa menyesuaikan dengan kondisi sekarang.

"Yang penting tidak meninggalkan tradisi keturunan Adipati Mangkunegara. Bisa putra, ponakan dan adik, atau cucu. Dewan Pinisepuh dan keluarga inti punya hak untuk memilihnya," pungkas Surojo.

(rih/ams)