2 Anak yang Gugat Ibu soal Hibah Tanah di Boyolali Buka Suara

Ragil Ajiyanto - detikNews
Jumat, 26 Nov 2021 17:39 WIB
Rini Sarwestri dan Indri Aliyanto, saat mengikuti sidang pemeriksaan setempat, Boyolali, Jumat (26/11/2021).
Rini Sarwestri dan Indri Aliyanto, saat mengikuti sidang pemeriksaan setempat, Boyolali, Jumat (26/11/2021). (Foto: Ragil Ajiyanto/detikcom)
Boyolali -

Sidang dua anak menggugat ibu kandung di Boyolali terkait hibah tanah masih bergulir. Dua penggugat yakni Indri Aliyanto (47) dan Rini Sarwestri (51), menuntut hibah tanah dibatalkan.

"Jadi intinya kita di sini hanya (menuntut) membatalkan hibah (tanah), karena hibah itu tidak sesuai. Di situ ada pasal 913, legitime portie, kita juga punya hak yang sama. Kita sesama anak kandung dan kita menuntut hak kita," ujar Indri Aliyanto, saat ditemui usai pemeriksaan setempat di Dukuh Klinggen, Desa Guwokajen, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jumat (26/11/2021).

Menurut Indri, hibah tanah yang dilakukan ibu kandungnya, Sri Surantini (73) kepada tiga anak dan satu cucunya tanpa melalui kesepakatan keluarga. Dia mengaku tidak diundang dan tidak ada musyawarah.

"Hibah itu tidak ada kesepakatan, kita tidak diundang, tidak ada musyawarah dan mufakat. Tahu-tahu ini sudah terjadi pemecahan sertifikat. Harusnya dia kalau orang beragama, harusnya dikumpulkan bermusyawarah keluarga, dibagi, jadi jelas. Kita tahunya kok sudah dibagi dan saya tidak dapat hak di situ," ungkap Indri.

Indri menjelaskan dalam kasus ini dia bukan bermaksud menggugat ibu kandungnya.

"Intinya bukan kita masalah beritanya menggugat ibu kandung, justru kita menyelamatkan ibu kandung kita. Bukan kita mau menuntut itu tapi kita membatalkan hibah itu," imbuhnya.

Rini Sarwestri menambahkan, pihaknya tahu jika tanah di Dukuh Klinggen, Desa Guwokajen, Kecamatan Sawit, tersebut sudah dipecah dan terbit sertifikat pemecahan, setelah informasi akan ada jalan Tol Yogya-Solo yang melintasi Dukuh Klinggen. Dia mengaku semula tidak tahu jika tanah tersebut sudah dihibahkan kepada tiga anak dan satu cucunya.

"Tidak tahu saya, karena kami di luar kota. Tahunya setelah informasi ada jalan tol (Yogya-Solo). Kami juga kaget," imbuh Rini.

Lebih lanjut Indri juga mengaku memang menolak ajakan damai dari saudara-saudaranya dalam mediasi di Pengadilan Negeri Boyolali, sebelum masuk proses persidangan. Dia beralasan karena gugatan sudah berjalan.

"Karena sudah berjalan di tengah-tengah, kita tidak mau," kata Indri lagi.

"Proses kita berlanjut, sampai kita dibagi adil, hak anak sama. Dibagi lima. Karena sekarang dibagi empat dan itu tidak adil. Makanya kita menuntut dibagi lima, dibagi adil merata hak yang sama," pungkasnya.

(sip/rih)