Pintu Pengendali Banjir Bendung Wilalung Kudus Berstatus Awas

Dian Utoro Aji - detikNews
Jumat, 19 Nov 2021 11:41 WIB
Pintu Pengendali Banjir Bendung Wilalung
Pintu Pengendali Banjir Bendung Wilalung, Jumat (19/11/2021). Foto: Dian Utoro Aji/detikcom
Kudus -

Pintu pengendali banjir Bendung Wilalung di Kudus, Jawa Tengah, berstatus awas hari ini. Debit air di pintu pengendali banjir tersebut mencapai 745 m3/detik.

"Statusnya sudah masuk Awas dengan acuan dari Klambu sejak tadi sekitar tadi malam," kata Pelaksana Lapangan Serang Lusi Wulan pada BBWS Pemali Juana, Heri Bangkir Setiadi, kepada wartawan ditemui di poskonya Desa Kalirejo Kecamatan Undaan, Jumat (19/11/2021).

Heri mengatakan aktivitas kenaikan debit air di pintu pengendali banjir Bendung Wilalung sejak hari Kamis (18/11) kemarin. Terlebih cuaca intensitas curah hujan di wilayah Kudus dan sekitarnya sedang tinggi.

"Jadi mulai ada aktivitas mulai kemarin 18 November 2021 mulai jam 06.00 WIB pagi sampai sekarang," ungkap Heri.

Dia mengatakan debit air di pintu pengendali banjir Bendung Wilalung saat ini di angka 745 m3/detik. Kondisi tersebut diperkirakan akan naik jika curah hujan dari Bendung Klambu di Kabupaten Grobogan tinggi.

"Untuk dari Klambu perjalanan sekitar empat jam, ini trennya masih 745 m3/detik," ujar dia.

Pintu Pengendali Banjir Bendung WilalungPintu Pengendali Banjir Bendung Wilalung, Jumat (19/11/2021). Foto: Dian Utoro Aji/detikcom

Heri mengatakan jika debit air di atas 800 m3/detik maka pintu sungai ke Juwana akan dibuka. Namun hingga Jumat siang belum dibuka karena debit air masih di bawah 800 m3/detik.

"Kalau sesuai SOP debit itu 800 m3/detik maka baru kita buka pintu pengendali banjir ke arah Juwana. Kita belum buka, karena debit 745 m3/detik," ujar dia.

"Acuan itu dari Bendung Klambu kalau debit sampai 880 m3/detik maka ada SOP dibuka ke arah Juana kemungkinan yang pintu delapan. Nanti yang selanjutnya misal ada kenaikan kita buka pintu lagi," sambung dia.

Terkait sampah yang menggunung di pintu pengendali banjir Bendung Wilalung akan dibersihkan. Menurut Heri pembersihan menunggu jika debit air mengalami penurunan di bawah 400 m3/detik.

"Sampah nanti kita mengerjakan setelah debit itu turun paling setidaknya di bawah 400 m3/detik. Ini mau dikerjakan pakai ekskavator, tapi pegangannya tidak ada," pungkas Heri.

Heri menambahkan, pengendali banjir buatan Belanda tahun 1918 itu kini hanya menyisakan tiga pintu yang masih bisa beroperasi secara normal.

"Sedangkan untuk yang masih dioperasikan tiga pintu, yakni pintu nomor 6,7, dan 8. Pintu nomor 7 dan 8 merupakan pintu elektrik dan pintu nomor 8 manual. Kalau pintu ke Sungai Wulan (pintu nomor 1 dan 2) sudah los (dibuka terus). Itu pintu (pintu nomor 3-11) ke arah Sungai Juwana," kata Heri.

Heri mengatakan dari belasan pintu pengendali banjir Bendung Wilalung ada 8 pintu yang mati total. "Itu pintu yang sudah mati total, sudah mati total pintu nomor 1 sampai 5. Ditambah pintu 10 dan 11," terang dia.

"Kita nunggu kegiatan normalisasi Sungai Wulan dan Sungai Juwana apakah nanti ada program ke situ juga apa tidak," sambung Heri.

Dijelaskannya, pintu pengendali banjir Bendung Wilalung di Desa Kalirejo Kecamatan Undaan dibuat oleh Belanda pada tahun 1918. Bendung Wilalung dibangun bertujuan untuk mengelola dan mengatur pembagian banjir dari Sungai Serang dan Lusi ke arah Lembah Juana dan ke Sungai Wulan.

Terdapat 11 pintu pengendali banjir, terdiri dua pintu ke arah Sungai Wulan dan sembilan pintu ke arah Sungai Juwana.

(mbr/rih)