Curhat Sales Mobil di Tengah Hiruk Pikuk Pembayaran Ganti Rugi Tol di Klaten

Achmad Syauqi - detikNews
Selasa, 16 Nov 2021 16:07 WIB
Para sales mobil menjaring konsumen baru penerima ganti rugi tol di Klaten, Selasa (16/11/2021).
Para sales mobil menjaring konsumen baru penerima ganti rugi tol di Klaten, Selasa (16/11/2021). Foto: Achmad Syauqi/detikcom
Klaten -

Di tengah hiruk pikuk kegiatan pembebasan dan ganti rugi lahan jalan tol Yogya-Solo di Klaten, Jawa Tengah, diwarnai kehadiran para sales kendaraan. Mereka berjibaku menggaet jutawan dan miliarder baru penerima ganti rugi tol agar membeli mobil baru.

Di Balai Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen, Klaten, Selasa (16/11) sejumlah sales mobil ikut hadir di kegiatan musyawarah ganti kerugian proyek tol Yogya-Solo. Ada yang berseragam sesuai merek mobil dan ada yang berpakaian biasa.

Sejak warga calon penerima ganti rugi belum hadir di lokasi, mereka sudah datang lebih dulu. Dengan sabar para sales itu menunggu di depan pintu aula balai desa sambil senyum ramah pada setiap orang.

Di tangan mereka, segepok brosur produk mobil dibawa. Selama acara berlangsung, para sales harus menunggu di luar gedung.

Begitu acara masuk waktu istirahat dan musyawarah lebih santai, mereka masuk ruangan mendekati warga. Ada yang sekadar membagi brosur, mengobrol bahkan ada yang sambil jongkok memberikan penjelasan ke warga.

Salah satu sales itu adalah Yuli. Ia mengakui selalu datang di sela kegiatan ganti rugi proyek tol karena warga punya uang banyak.

"Harapannya kan warga menerima uang banyak. Di samping pada beli rumah kan diharapkan membeli kendaraan baru," ungkap Yuli kepada detikcom di lokasi, Selasa (16/11/2021).

Sales diler salah satu pabrikan mobil asal Jepang itu mengatakan sejak proses ganti rugi di Kecamatan Polanharjo sampai Ngawen selalu hadir.

"Ya cukup berhasil, saya saja dapat dua. Sejak dari Kecamatan Polanharjo, Delanggu, Karanganom sampai Ngawen ini," akunya.

Sebenarnya, sebut Yuli, para penerima ganti rugi mayoritas tertarik membeli mobil baru. Namun lebih banyak yang berpikir investasi rumah dan tanah.

"Kalau menolak nggak sih. Cuma banyak yang ingin membeli rumah dan tanah dulu, baru mobil," kata Yuli.

Kepada calon konsumen baru itu banyak hal ditawarkan. Mulai dari kemudahan pembayaran sampai jemput bola.

"Kalau tertarik biasanya kita jemput bola. Kita datangi ke rumahnya," imbuhnya.

Sales lainnya, Deni, mengatakan banyak warga lebih memilih investasi properti. Setelah rumah dan tanah baru tertarik membeli mobil.

"Rata-rata alasan properti dulu. Atau hilang sawah dapat sawah, hilang rumah ya beli rumah, biasanya beli rumah atau tanah dulu, kalau ada sisa baru mobil," kata Deni di lokasi.

Untuk mendekati warga, Deni mengaku memang perlu kesabaran. Terutama saat menawarkan kemudahan dalam pembelian.

"Kita tawarkan kemudahan, servis gratis dan lainnya. Ya ada laku 1, 2 atau 3 unit tapi ini saya belum laku," imbuhnya.

(rih/sip)