Penampungan Air Kuno di Tepi Jalan, Saksi Sejarah Perkebunan Tebu di Klaten

Achmad Syauqi - detikNews
Minggu, 14 Nov 2021 16:03 WIB
Tampungan air yang dibangun era kolonial di Jalan Karangdowo-Sukoharjo, Klaten, Minggu (14/11/2021).
Penampungan air kuno yang dibangun era Belanda di Jalan Karangdowo-Sukoharjo, Klaten, Minggu (14/11/2021). (Foto: Achmad Syauqi/detikcom)
Klaten -

Dua bangunan kuno menyerupai berbentuk silinder berdiri di tepi jalan raya Karangdowo-Sukoharjo, Kecamatan Karangdowo, Klaten, Jawa Tengah. Tidak ada satu huruf atau angka pun yang menunjukkan identitas bangunan itu, sehingga barangkali ada yang tak tahu tentang cerita di baliknya.

Satu unit bangunan terletak di tepi jalan ruas Desa Soka dan satu lainnya terletak di tepi jalan ruas arah Desa Karangdowo, Kecamatan Karangdowo. Keduanya berada di jalan yang sekelilingnya hanya ada sawah yang membentang.

Bangunan berupa tembok kokoh, mirip menara suar itu tingginya sekitar 6 meter. Terbuat dari batu bata berplester sederhana.

Bangunan di ruas Desa Soka tidak dicat tetapi terlihat ditambal di sisi barat dengan batu bata. Sedangkan yang di ruas Desa Karangdowo, dicat dengan warna oranye dengan tembok yang mulai retak.

Di sekitar dua bangunan itu tidak ada bangunan lain. Di sekelilingnya hanya ditumbuhi semak belukar dan dijadikan tempat pembuangan pecahan kaca.

Tampungan air yang dibangun era kolonial di Jalan Karangdowo-Sukoharjo, Klaten, Minggu (14/11/2021).Penampungan air yang dibangun era kolonial di Jalan Karangdowo-Sukoharjo, Klaten, Minggu (14/11/2021). (Foto: Achmad Syauqi/detikcom)

Salah seorang warga Desa Soka, Hadi Suwarno (71) mengatakan jika ada banyak anak muda di daerahnya yang menanyakan bangunan itu.

"Itu bangunan zaman Belanda. Bangunan itu menurut cerita orang-orang tua adalah sumur tampungan air untuk 'minum' kereta api," ungkap Hadi Suwarno pada detikcom, Sabtu (13/11/2021).

Hadi Suwarno menceritakan tower tampungan air itu digunakan untuk pendingin kereta api uap. Kereta api uap atau lori itu merupakan pengangkut tebu yang dipanen di Kecamatan Karangdowo.

"Dulu kereta pakai kereta uap. Selain bahan bakar kan mesinnya butuh air sehingga kereta berhenti mengambil air di situ," terang Hadi Suwarno.

Menurut Hadi Suwarno, di zaman Belanda wilayah Kecamatan Karangdowo bukan didominasi dengan pertanian tebu, bukan padi seperti saat ini. Tebu tersebut saat panen akan dibawa ke pabrik gula (PG) Ceper di Kecamatan Ceper.

"Pabrik gulanya ada di Kecamatan Ceper. Selain di Desa Soka, bangunan sumur itu ada juga di Desa Karangdowo," lanjut Hadi Suwarno.

"Saya tidak tahu kereta apinya. Saya masih kecil terakhir tebu ditanam, kereta api saya pernah lihat saat masih kecil tapi di Kecamatan Pedan," tutur Hadi Suwarno yang lahir 1950.

Hadi Suwarno bercerita dulunya ada lubang-lubang pada bangunan itu. Namun seiring berjalannya waktu, warga menutupi lubang-lubang itu.

"Sebab untuk buang piring pecah dan untuk jambret bersembunyi," pungkas Hadi Suwarno.

Waega lain bernama Misnan (69) mengatakan dari cerita orang tuanya sejak dulu hanya ada dua bangunan penampungan air yang ada di daerahnya. Dua penampungan air itu berada di tepi jalan karena dulunya di lokasi itu berupa jalur rel kereta uap.

"Ini dulu (jalan raya) jalur kereta api, tebu dari sini dibawa ke PG Ceper, digiling ke Ceper. Sawah bapak saya dulu juga ditanami tebu," ucap Misnan pada detikcom.

Menurut Misnan setelah Belanda pergi, bangunan itu sudah tidak digunakan lagi. Apa lagi setelah Waduk Gajah Mungkur dibangun, persediaan air untuk warga di daerah itu akhirnya melimpah.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya...

Saksikan juga 'Penampakan Ruang Mirip Bungker di Lokasi Penemuan Terowongan Kuno':

[Gambas:Video 20detik]