Buntut Klaster Takziah, PTM di SD Sanden Bantul Disetop

Pradito Rida Pertana - detikNews
Jumat, 12 Nov 2021 20:05 WIB
Poster
Ilustrasi pandemi Corona (Foto: Edi Wahyono)
Bantul -

Rentetan klaster takziah di Kapanewon Sedayu turut berdampak pada disetopnya pembelajaran tatap muka (PTM) di SDN Piring I, Kalurahan Murtigading, Kapanewon Sanden, Kabupaten Bantul. Salah satu murid di SD itu merupakan peserta TPA dengan pengajar guru SMKN 1 Sedayu yang positif COVID-19.

"Ada sekolah yang terpaksa tutup, SD Piring 1 Murtigading sementara kita tutup dulu sembari menunggu tracing selesai. Penutupan itu sejak Jumat (5/11) pekan lalu," ujar Panewu (Camat) Sanden Deni Ngajis Hartono saat dihubungi wartawan, Jumat (12/11/2021).

Penutupan sekolah itu terkait dengan kasus Corona dari tracing peserta TPA yang diajar guru SMKN 1 Sedayu. Deni mencatat mulanya ada belasan orang yang terkonfirmasi Corona dari hasil tracing 6 peserta TPA guru SMKN 1 Sedayu, per Senin (8/11) lalu, namun per hari ini jumlah kasus terkonfirmasi Corona sudah mencapai puluhan.

"Jadi dari takziah Sedayu cuma 1, guru ngaji dari SMKN Sedayu itu terus melakukan ngajar TPA. Dari TPA itu 30 ditracing ada sekitar 7, dan 7 itu berkembang sampai sekarang jumlah totalnya jadi 29 itu," katanya.

Deni menyebut data 29 kasus Corona itu merupakan hasil tracing per Rabu (10/11) lalu. Menurutnya hingga hari ini belum ada penambahan kasus baru dari klaster takziah tersebut.

"Hari ini tidak ada," ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, guru SMKN 1 Sedayu Bantul yang terkonfirmasi positif Corona nekat mengajar mengaji yang berujung menulari sejumlah anak. Guru ini disebut tidak percaya Corona dan tetap mengajar anak-anak mengaji.

"Nah, meski sudah dinyatakan positif tetap ngajar TPA di kampungnya. Kan kalau positif harusnya diam di rumah tapi ini malah mengajar ngaji. Karena gurunya itu ngeyel tidak percaya COVID-19," ujar Panewu Sanden Deni Ngajis Hartono saat dihubungi wartawan, Senin (8/11) lalu.

"Yang bersangkutan ngajar sekitar 30 anak, setelah itu kan ditracing dari 30 anak itu dan ternyata 6 anak positif. Selanjutnya dilakukan tracing lagi dan saat ini totalnya ada 16 kasus," katanya.

Terkait kasus guru yang positif COVID ini, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyebut perbuatan guru itu merupakan suatu pelanggaran dan terancam sanksi.

"Kalau nekat ngajar ya pelanggaran. Kita beri peringatan, teguran. Tidak diindahkan terus-menerus ya sanksi," kata Halim saat diwawancarai wartawan di Kompleks Kepatihan, Kantor Gubernur DIY, Yogyakarta, Senin (8/11).

(ams/rih)