Tentang Bunga Wijayakusuma dari Nusakambangan, Pelengkap Penobatan Raja Jawa

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Minggu, 24 Okt 2021 11:52 WIB
Pulau Majeti dan Pulau Wijayakusuma, tempat pohon Wijayakusuma Keraton tumbuh, di kawasan Cagar Alam Wijayakusuma Cilacap.
Pulau karang temat tumbuh pohon wijayakusuma di Nusakambangan (Foto: dok. Biodiversity Pertamina RU IV Cilacap)
Solo -

Pohon wijayakusuma karaton merupakan tanaman yang sangat unik. Selain waktu mekarnya yang sangat jarang, ternyata bunga wijayakusuma menjadi bagian dari tradisi penobatan raja-raja Jawa.

Seperti di Keraton Kasunanan Surakarta, raja-raja wajib mengambil bunga wijayakusuma setelah naik takhta. Namun dikisahkan bahwa bunga dalam tradisi ini bersifat gaib.

"Bunga wijayakusuma dalam tradisi ini bersifat gaib, tetapi memang bentuknya seperti wijayakusuma yang ada. Ceritanya begitu," kata kerabat Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Puger, Minggu (24/10/2021).

Tata cara tradisi pengambilan bunga wijayakusuma, kata Puger, sudah dituliskan sejak masa raja-raja terdahulu. Menurutnya, tradisi sempat terputus dan kembali dilakukan di masa Kerajaan Mataram.

"Tata caranya ada, tercatat, bagaimana pengambilannya, dan sebagainya. Ini turun temurun, tapi sepertinya setelah Kerajaan Demak tidak dilakukan, baru dilakukan lagi masa Kerajaan Mataram," ujarnya.

Adapun tata caranya yakni raja mengutus pimpinan agama kerajaan untuk berangkat ke pulau di dekat Nusakambangan, Cilacap. Di sana, dilakukan ritual hingga mendapatkan bunga wijayakusuma gaib.

"Raja hanya mengutus ulama atau penghulu, kalau zaman sekarang menteri agamanya. Tempatnya di dekat Nusakambangan, harus mengarungi selat kecil yang dihubungkan perahu," katanya.

"Menurut cerita, bunga muncul dengan sendirinya dan dimasukkan ke wadah khusus. Kemudian dibawa pulang dan diserahkan kepada raja," ungkapnya.



Selanjutnya: kapan bunga wijayakusuma karaton bisa dipetik?

Simak juga 'Air Kolam Patirtan Candi Penataran Blitar Dipercaya Bikin Awet Muda':

[Gambas:Video 20detik]