DLH Brebes Cek Pencemaran di Industri Pengolahan Rajungan, Ini Temuannya

Imam Suripto - detikNews
Selasa, 19 Okt 2021 18:45 WIB
Dinas Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Sampah (DLHPS) Brebes saat mengecek pabrik pengolahan rajungan yang dikeluhkan menimbulkan pencemaran, Selasa (19/10/2021).
Dinas Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Sampah (DLHPS) Brebes saat mengecek pabrik pengolahan rajungan yang dikeluhkan menimbulkan pencemaran, Selasa (19/10/2021). Foto: Imam Suripto/detikcom
Brebes -

Warga Desa Prapag Lor, Brebes, Jawa Tengah, mengeluhkan soal dugaan pencemaran limbah dari industri pengolahan rajungan di wilayahnya. Dinas Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Sampah (DLHPS) Brebes pun mendatangi lokasi dan mengecek sumber bau yang dikeluhkan warga.

Petugas DLHPS Brebes mendatangi industri pengolahan rajungan Mika Jaya Lancar di Desa Prapag Lor, siang tadi. Di lokasi ini petugas memeriksa saluran pembuangan limbah pabrik, dan memeriksa saluran air yang disebut warga sudah tercemar dan berbau menyengat.

"Kami langsung mengecek ke lokasi dan mendatangi pabrik yang dimaksud warga. Kemudian kami juga mengecek saluran-saluran air yang ada di sekitarnya," kata Kepala DLHPS Brebes, Budhi Darmawan, kepada wartawan, Selasa (19/10/2021).

Petugas DLHPS Brebes pun menemukan pabrik pengolahan rajungan Mika Jaya Lancar itu ternyata membuang limbah di tempat penampungan sendiri. Budhi pun memastikan pabrik yang dikeluhkan warga itu tidak menimbulkan pencemaran.

"Soal tudingan pabrik itu telah mencemari lingkungan, ternyata tidak benar. Karena limbah cair yang dihasilkan langsung ditampung di tempat plastik dan dibuang di tempat khusus. Kami justru menemukan, sumber bau busuk itu berasal dari saluran air buangan rumah tangga," terang dia.

Pihaknya pun menemukan sumber bau menyengat di lokasi tersebut diduga tak hanya berasal dari saluran buangan rumah tangga. Sebab di lokasi yang sama juga ditemukan pabrik pengolahan ikan hingga terasi.

"Di lokasi itu selain ada pabrik rajungan, juga ada pabrik pengolahan terasi, ikan asin, dan lainnya. Kemudian kalau rob, air buangan ini terbawa air laut dan menyebar ke rumah rumah. Sehingga, kalau terjadi banjir rob itu bau itu akan tercampur," terang dia.

DLHPS Tak Temukan Pelanggaran

Terkait dengan permintaan warga untuk melakukan penutupan pabrik tersebut, DLHPS menyatakan pabrik tersebut tidak melakukan pelanggaran. Budhi memastikan pihaknya berupaya mencari solusi untuk mengatasi bau busuk yang dikeluhkan warga.

"Kalau tuntutannya ditutup itu kita tidak bisa asal tutup, apalagi keberadaan usaha itu sudah membantu perekonomian warga. Kemudian saat dilakukan pengecekan, kami tidak menemukan adanya pelanggaran soal limbah. Kami akan mencari solusi terbaik soal keluhan bau busuk di desa itu," pungkas Budhi.

(ams/rih)