Semangat Pria dengan Satu Kaki di Klaten, Jualan Burjo Motoran

Achmad Syauqi - detikNews
Sabtu, 16 Okt 2021 15:42 WIB
Heri Purnomo (33) warga Klaten semangat jualan burjo motoran meski kondisi fisiknya hanya satu kaki, Kamis (14/10/2021).
Heri Purnomo (33) warga Klaten semangat jualan burjo motoran meski kondisi fisiknya hanya satu kaki, Kamis (14/10/2021). Foto: Achmad Syauqi/detikcom
Klaten -

Heri Purnomo (33) warga Klaten, Jawa Tengah, jualan bubur kacang hijau (burjo) keliling dengan sepeda motor meski kondisi fisiknya hanya satu kaki. Begini kisah Heri.

"Saya awalnya menjahit di butik di Semarang tapi karena Corona sepi saya nganggur dan pilih pulang. Saya menjahit sudah 3 tahun," kata Heri saat ditemui detikcom di depan kantor Kecamatan Wedi, Kamis (14/10/2021).

Setelah pulang ke rumahnya di Desa Sedayu, Kecamatan Tulung, dirinya bekerja serabutan sebagai buruh dan sempat bikin usaha sendiri dengan berjualan cilok.

"Sempat jual cilok tapi saya tidak kuat harus beli dan buat bahannya sendiri dengan kondisi begini," ujarnya.

Heri pun akhirnya ikut orang dengan menjual burjo. Bayaran sistem harian dan sehari bisa bawa pulang Rp 60 ribu. Dia berjualan mengendarai motornya dari pukul 06.00 WIB sampai siang.

"Paling susah kalau jalan macet karena saya menyangga sepeda motor dan gerobak dengan satu kaki kiri," lanjutnya.

"Kadang dianggap aneh orang lain karena tidak pakai rem belakang, tapi alhamdulillah dengan niat bisa saya kendarai. Padahal bobot gerobak bisa sekitar 80 kilogram," paparnya.

Heri Purnomo (33) warga Klaten semangat jualan burjo motoran meski kondisi fisiknya hanya satu kaki, Kamis (14/10/2021).Heri Purnomo (33) warga Klaten semangat jualan burjo motoran meski kondisi fisiknya hanya satu kaki, Kamis (14/10/2021). Foto: Achmad Syauqi/detikcom

Meskipun dengan keterbatasan, Heri mengaku dengan tekad yang kuat berjualan keliling bermotor dengan satu kaki bisa dijalani.

"Baru dua minggu tapi alhamdulillah lumayan ramai. Dulu jualan di Mayungan sepi, pindah lagi sampai di sini (depan kecamatan) lumayan ramai," tambah Heri.

Heri melayani pembeli dengan satu kaki kiri. Kekuatan kaki kanan ditopang besi alat bantu berjalan (kruk). Saat berkendara, dia mengandalkan topangan kaki kiri di aspal saat berhenti. Sebab kaki kanannya diamputasi sepaha.

Heri menambahkan, dirinya kehilangan kaki kanan karena tabrakan saat menjadi kondektur truk. Kakinya terjepit sehingga tidak bisa diselamatkan.

"Dulu saya kondektur truk ekspedisi tapi kecelakaan sehingga terjepit dan diamputasi. Beruntung saya masih selamat," ungkapnya.

Dia pun memiliki keinginan memiliki sepeda motor roda tiga agar lebih nyaman dan aman berkendara.

"Kalau saya ubah jadi roda tiga, istri saya tidak bisa pakai karena istri saya tangan cuma satu. Kalau punya modal ya mau bikin sendiri," pungkasnya.

(rih/rih)