Mahasiswa UNS Peringati September Hitam: Tragedi PKI hingga KPK

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Kamis, 30 Sep 2021 18:20 WIB
Sejumlah mahasiswa gelar aksi peringati September Hitam di depan gerbang UNS
Sejumlah mahasiswa gelar aksi peringati September Hitam di depan gerbang UNS (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo -

Sejumlah mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar aksi untuk memperingati September Hitam. Mereka menuntut keadilan atas peristiwa yang terjadi di Indonesia, mulai dari tragedi PKI hingga pemecatan para pegawai KPK yang tak lolos tes wawasan kebangsaan (TWK) hari ini.

Aksi diprakarsai oleh BEM UNS di depan gerbang UNS. Para peserta mengenakan pakaian serba hitam dan berbaris menghadap ke selatan.

Tampak beberapa peserta aksi membawa bingkai foto bergambar tokoh-tokoh yang menjadi korban pelanggaran HAM, seperti Munir hingga Salim Kancil. Beberapa dari mereka juga membawa bunga mawar merah.

Mereka juga tampak membawa poster berisi kritikan kepada pemerintah. Isinya antara lain 'KPK Dibunuh Negara' dan 'No Justice No Peace'.

Acara diisi dengan orasi dari beberapa perwakilan peserta aksi. Selain berorasi, mereka juga membacakan puisi dan menyanyikan lagu nasional.

Koordinator aksi, Nurul, mengatakan aksi ini dilakukan untuk memperingati sejarah kelam Indonesia. Dia menyebut bahwa bulan September telah banyak terjadi pelanggaran HAM.

"Banyak tragedi yang terjadi di September, seperti 12 September 84 Tanjung Priok, 24 September 99 Trisakti, 7 September 2004 Munir, 26 September 2015 Salim Kancil, 30 September 2021 hari ini KPK," ujar Nurul usai aksi di Solo, Kamis (30/9/2021).

"Kita ingin mengatakan kepada khalayak umum bahwa permasalahan negara terkait pelanggaran hukum dan HAM masih banyak yang belum tertuntaskan," kata dia.

Selain itu, dia juga menagih janji Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang ingin menuntaskan masalah HAM. Mereka meminta agar para korban mendapatkan keadilan.

"Kita berterima kasih kepada bapak Jokowi yang sudah berjanji ingin menuntaskan masalah HAM, itu adalah angin baru bagi Indonesia bahwa ada semangat menuntaskan permasalahan negeri. Harapannya korban-korban bisa mendapat keadilan," pungkasnya.

(ams/mbr)