Jejak Merah

Pahit Getir Dalang Ki Sayoko Langganan Dibui Orba: Ayah Saya Tewas Dimassa

Achmad Syauqi - detikNews
Kamis, 30 Sep 2021 17:38 WIB
Dalang senior Klaten, Ki Sayoko Gondo Saputro
Dalang senior Klaten, Ki Sayoko Gondo Saputro (Foto: Dok Pribadi Ki Sayoko)
Klaten -

Peristiwa kelam G30S/PKI masih membekas di memori orang-orang atau keluarga yang terkait dengan peristiwa pada tahun 1965 lalu. Salah satunya dalang senior Ki Sayoko Gondo Saputro yang berasal dari Klaten, Jawa Tengah, ayahnya tewas dihabisi massa.

"Bapak saya kesangkut PKI, rumah dibakar habis rata tanah dan ayah saya dihabisi ramai-ramai di timur desa. Bapak saya bukan tokoh dalam PKI tapi rumah saya digunakan untuk kursus orang partai dan lainnya," kenang Sayoko pada detikcom di rumahnya di Jalan Klaten-Boyolali, Kamis (30/9/2021).

Sayoko menceritakan ayahnya Ki Gondo, merupakan seniman wayang dan tari. Selain mendalang ke berbagai kota di Jateng dan Jatim juga menciptakan tari.

"Bapak itu seniman, tapi waktu itu sudah menciptakan tari-tarian gerong-gerongan (nyanyian koor) suara partai," terang Sayoko yang kala itu masih remaja usia belasan tahun.

Sayoko mengenang ayahnya bukan ikut struktur kepengurusan PKI, namun nasibnya pun ikut berakhir tragis. Dia menyaksikan sendiri kengerian kala itu.

"Bapak saya bukan tokoh dalam PKI tapi saat itu rumah saya paling bagus digunakan untuk kursus-kursus. Akhirnya rumah dibakar, bapak dihabisi, tergeletak di bawah pohon asem," ujar Sayoko.

Peristiwa yang mencekam itu tak menyurutkan niatnya untuk meneruskan profesi dalang dari sang ayah. Bahkan Sayoko menjadi sosok dalang kritis pada masa pemerintahan orde baru.

"Tapi saya kritis pada orde baru bukan semata itu (kejadian ayah meninggal). Tapi lebih karena program orde baru dengan partainya ada yang tidak menguntungkan rakyat, celah itu saya masuki," sambung Sayoko.

Sayoko mengenang akibat sikap kritisnya itu, dia beberapa kali harus berurusan dengan aparat. Dia bahkan beberapa kali masuk bui.
1973.

"Saya itu saya dalang yang suka mengkritik apa yang saya lihat dan dengar. Saya ditahan pertama 1973, saya mengkritik masalah pajak PBB," ungkap Sayoko.

Simak kisah selengkapnya di halaman berikut...