Kisah Jembatan Pemali Brebes Saksi Peristiwa Berdarah Penumpasan PKI

Imam Suripto - detikNews
Rabu, 29 Sep 2021 17:51 WIB
Jembatan Pemali Brebes, Rabu (29/9/2021).
Jembatan Pemali Brebes, Rabu (29/9/2021). (Foto: Imam Suripto/detikcom)
Brebes -

Peristiwa G30S/PKI menyisakan sejarah kelam dan berdarah. Sebuah jembatan di Brebes, Jawa Tengah, yang menjadi saksi bisu peristiwa itu masih bisa dilihat jejaknya hingga saat ini. Seperti apa?

"Dari sejarah tutur yang diceritakan para saksi, banyak masyarakat, terutama di wilayah muara Sungai Pemali, menemukan mayat korban-korban 65. Ini menyerupai kejadian di Bengawan Solo dan Sungai Brantas Sidoarjo," ujar Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Brebes yang juga merupakan sejarawan Pantura Wijanarto kepada wartawan, Rabu (29/9/2021).

Wijanarto kemudian mengutip buku Revisi Hari Jadi Kabupaten Brebes yang dia tulis bersama Iskandar, Atmo Tan Sidik (budayawan Pantura), Soedarmo, dan Nurul Hidayat. Jembatan yang berada di Desa Wanacala, Kecamatan Songgom Kabupaten Brebes memang sudah tak berfungsi akibat ambrol diterjang banjir.

Namun puing-puing bangunan yakni bagian oprit masih tersisa. Kini sudah ada jembatan baru yang dibangun di samping bangunan lama.

Di jembatan ini, kata Wijanarto, anggota, simpatisan, hingga orang yang diduga PKI dihabisi dan mayatnya dibuang ke Sungai Pemali. Dia mengungkap jumlah korban saat itu tidak pernah diketahui secara pasti.

Wijanarto mengatakan imbas pemberontakan G30S/PKI sampai di Brebes setelah kehadiran Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) dari Jakarta. Pasukan penumpas PKI dari Jakarta ini datang ke Brebes pada 7 Oktober 1965.

RPKAD saat itu datang ke daerah karena ditengarai banyak anggota PKI yang melarikan diri dari Jakarta ke daerah-daerah. Tidak hanya di Brebes, pasukan ini juga mengamankan wilayah lain yang ditengarai sebagai basis PKI.

Pasukan ini kemudian mendirikan pos-pos komando. Di antaranya di Kecamatan Tanjung dan Brebes kota. Pusat komando yang berada di Brebes kota sekarang menjadi Markas Kodim/0713 Brebes.

Secara masif, jelas Wijanarto, pasukan itu bergerak dari Ciledug untuk menyisir wilayah Brebes Tengah seperti Banjarharjo, Ketanggungan dan sekitarnya.

"Kehadiran pasukan tersebut menyemangati ormas-ormas dan masyarakat untuk melakukan perlawanan dan pengganyangan terhadap gerakan kiri di Brebes," lanjut Wijanarto.

Puncaknya, masyarakat Brebes menggelar rapat akbar di Alun-alun Brebes pada 18 Oktober 1965. Banyak dari anggota gerakan kiri maupun simpatisanya ditumpas dan mayatnya dihanyutkan di Sungai Pemali.

(sip/mbr)