Ternyata Begini Modus 2 Tersangka Buang Limbah Ciu ke Bengawan Solo

Ari Purnomo - detikNews
Jumat, 17 Sep 2021 15:10 WIB
Hingga kini Sungai Bengawan Solo masih tercemar oleh limbah ciu. Kondisi limbah yang mencemari Bengawan Solo pagi ini lebih parah dari sebelumnya.
Pencemaran di Bengawan Solo (Foto: Agung Mardika)
Solo -

Polda Jawa Tengah menetapkan dua tersangka kasus pembuangan limbah ciu di Bengawan Solo yakni pria berinisial J (36) dan H (40). Kedua warga Sukoharjo itu diketahui menyedot limbah dari tempat produksi mereka dan membuangnya ke sungai yang bermuara ke Bengawan Solo.

"Kedua tersangka menyedot limbah dari tempat produksi menggunakan alat berupa diesel. Selanjutnya limbah disalurkan melalui selang berdiameter 2 dim untuk dimasukkan ke dalam tandon (penampungan) limbah kapasitas 1000 liter," ujar Kabid Humas Polda Jateng Kombes Iqbal Alqudusy melalui rilis yang diterima detikcom, Jumat (17/9/2021).

Iqbal menjelaskan tandon yang digunakan untuk menampung limbah itu sudah disiapkan di atas mobil pikap. Setelah penuh, tandon itu kemudian dibawa ke tempat pembuangan yaitu di pekarangan milik salah satu warga di Polokarto, Sukoharjo.

"Tempat pembuangan limbah itu berada di pinggir Sungai Samin yang jaraknya hanya sekitar 10 meter," tutur mantan Kasat Lantas Polresta Solo itu.

Diberitakan sebelumnya, penetapan kedua tersangka ini dilakukan setelah tim Opsnal Tipidter Polres Sukoharjo mendapatkan informasi mengenai pembuangan limbah di wilayah Polokarto, Sukoharjo.

"Setelah diselidiki, petugas mendapati dua tersangka H dan J melakukan pembuangan limbah dengan sarana dua unit mobil pick up. Kemudian keduanya diamankan beserta barang bukti ke Polres Sukoharjo," ujar Iqbal.

Iqbal mengatakan keduanya terbukti melakukan pelanggaran dengan membuang limbah produksi ciu ke Bengawan Solo. "Tersangka H dan J adalah orang yang membuang limbah dari hasil produksi alkohol di salah satu pengrajin alkohol di Polokarto," sambungnya.

Selain dua tersangka, polisi juga menyita sejumlah barang bukti di antaranya dua unit mobil, dua tandon air kapasitas 1000 liter, diesel, selang.

"Motifnya untuk butuh uang untuk biaya hidup," sambung Iqbal.

Atas perbuatannya, kedua tersangka terancam penjara paling lama tiga tahun dan denda paling banyak Rp 3 miliar. Sanksi ini sesuai dengan Pasal 104 Undang-undang Republik Indonesia nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan atau pengelolaan lingkungan hidup.

(ams/sip)