Klaster Hajatan Gunungkidul Ketahuan Saat Mempelai Kena Corona Jelang Ijab

Pradito Rida Pertana - detikNews
Rabu, 15 Sep 2021 14:50 WIB
Tapal Batas Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta(DIY), Rabu (15/9/2021).
Tapal batas antara Kabupaten Gunungkidul dan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Gunungkidul -

Pasangan di Kalurahan Girisuko, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul harus menunda ijab kabulnya karena salah seorang mempelai terkonfirmasi positif COVID-19. Hal itu berujung pada 15 orang lainnya tertular hingga mengubah status RT di kalurahan itu menjadi satu-satunya RT zona merah di Gunungkidul.

Panewu (Camat) Panggang Winarno menjelaskan, kejadian bermula saat salah satu warga Girisuko hendak menggelar acara pernikahan pekan lalu. Saat itu sang mempelai asal Girisuko ternyata baru pulang dari perantauannya di Jakarta dan pasangannya berasal dari Pulau Sumatera.

"Kebetulan keduanya tidak melakukan tes Corona saat pulang dari luar kota," ujarnya saat dihubungi wartawan, Rabu (15/9/2021).

Selanjutnya, menjelang ijab kabul keduanya wajib untuk melakukan tes untuk membuktikan tidak terjangkit COVID-19. Dari situlah terkuak jika salah satu mempelai terkonfirmasi positif COVID-19.

"Dan baru ketahuan saat akan proses ijab kabul di KUA. Kan sebelum itu (ijab kabul) keduanya wajib mengantongi surat bebas Corona, nah saat dites ternyata yang mempelai wanita positif (COVID-19)," ucapnya.

Akibat hal tersebut, Satgas Kalurahan Girisuko melakukan tracing dan ada belasan warga yang terpapar COVID-19. Pasalnya sebelum ijab kabul warga telah ikut membantu kedua mempelai untuk mempersiapkan acara pernikahan.

"Total ada 15 warga yang dinyatakan positif. Memang belum sempat diselenggarakan, tapi warga sudah banyak membantu untuk pelaksanaan," katanya.

Bahkan, acara pernikahan keduanya juga harus ditunda dulu hingga semua yang terpapar sembuh. Tak hanya itu, ada 2 RT yang masuk zona oranye dan zona merah akibat munculnya klaster hajatan tersebut

"Untuk warga yang positif menjalani isolasi mandiri. Terus untuk dampak lainnya ada satu RT masuk zona merah dan satu RT masuk zona oranye," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul Dewi Irawaty membenarkan adanya klaster hajatan di Gunungkidul. Namun, tracing kasus tersebut sudah selesai.

"Memang ada klaster hajatan di Kapanewon Panggang, kejadiannya belum lama. Tapi untuk penanganannya sudah selesai pekan lalu," ucapnya.

Terlepas dari hal tersebut, Dewi menyebut adanya klaster itu membuat ada 1 RT di Gunungkidul yang masuk zona merah. Padahal, pekan lalu tidak ada RT berstatus zona merah di Gunungkidul.

"Jadi minggu sebelumnya tidak ada RT yang masuk zona merah. Tapi, sekarang ada satu RT di Kapanewon Panggang yang masuk zona merah karena itu (ada klaster hajatan)," ujarnya.

(sip/mbr)