Aksi Penyimpangan Seks Oknum Dokter di Semarang Lebih dari Sekali

ADVERTISEMENT

Aksi Penyimpangan Seks Oknum Dokter di Semarang Lebih dari Sekali

Ari Purnomo - detikNews
Selasa, 14 Sep 2021 14:38 WIB
ilustrasi sperma
(Foto: ilustrasi sperma/thinkstock)
Semarang -

Seorang oknum dokter di Kota Semarang, Jawa Tengah, berinisial DP, menjadi tersangka atas ulahnya mencampurkan spermanya ke makanan temannya. Polisi mengungkap, oknum dokter itu sudah melakukan perbuatannya itu lebih dari sekali.

"Sudah lebih dari satu kali (aksinya), korban merasa curiga, beberapa kali posisi tudung saji berubah-ubah," ujar Kabid Humas Polda Jateng Kombes Iqbal Alqudusy kepada wartawan di Solo, Selasa (14/9/2021).

Iqbal mengatakan fakta itu diketahui dari keterangan korban yang melihat keanehan-keanehan di rumah kontrakan yang mereka tinggali bersama tersangka selama ini.

Iqbal tidak bisa memastikan berapa kali tersangka melakukan aksi menjijikkan itu. Namun tersangka mengaku puas setelah melakukan perbuatan yang berujung pada dua korban mengalami trauma hingga saat ini.

"Saat melakukan aksi itu (onani) dia (tersangka) berfantasi, dan setelah itu (mencampurkan sperma ke makanan) tersangka mendapatkan kepuasan," ucapnya.

Humas Polda Jateng Kombes Iqbal Alqudusy, Solo, Selasa (14/9/2021).Humas Polda Jateng Kombes Iqbal Alqudusy, Solo, Selasa (14/9/2021). (Foto: Ari Purnomo/detikcom)

Saat ini, penyidik Polda Jateng akan melakukan tes kejiwaan pada tersangka. Tes itu dilakukan sesuai dengan masukan dari jaksa.

"Sudah dilimpahkan, tapi berkas dikembalikan dan dilengkapi. Tapi sedikit (kekurangannya), salah satunya agar ada tes kejiwaan," urainya.

Akibat perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 281 ayat (1) KUHP tentang Kesusilaan. DP tidak ditahan karena ancaman hukumannya di bawah 5 tahun penjara.

Dalam pasal tersebut dijelaskan barang siapa sengaja merusak dimuka umum ancaman hukuman 2 tahun 8 bulan.

Diberitakan sebelumnya, Pendamping korban dari LRC KJHAM, Nia Lishayati menjelaskan dua korban, pasangan suami istri yang memakan makanan itu mengalami syok dan trauma. Keduanya masih mendapat penanganan medis hingga saat ini.

"Dampak dari tindakan tersebut, korban mengalami trauma berat, gangguan makan, gangguan tidur dan gangguan emosi. Sejak bulan Desember 2020 sampai hari ini korban harus minum obat anti-depresan yang diresepkan psikiatri. Korban juga harus melakukan pemeriksaan dan mengkonsumsi obat anti-depresan selama minimal beberapa bulan ke depan," ujar Nia, kepada wartawan kemarin.

(sip/mbr)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT