Bengawan Solo Tercemar, Gibran Sebut IPAL Kampung Batik Tak Optimal

ADVERTISEMENT

Bengawan Solo Tercemar, Gibran Sebut IPAL Kampung Batik Tak Optimal

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Kamis, 09 Sep 2021 18:31 WIB
Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka di Loji Gandrung, Sabtu (14/8/2021).
Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka di Loji Gandrung, Sabtu (14/8/2021). Foto: Ari Purnomo/detikcom
Solo -

Bengawan Solo dalam beberapa hari terakhir kembali menjadi sorotan karena pencemaran parah. Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, mengungkap instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal di Kampung Batik Laweyan tidak berfungsi optimal.

Untuk diketahui, pencemaran Bengawan Solo diakibatkan limbah dari berbagai macam industri. Industri di Kota Solo yang berdampak signifikan terhadap limbah cair ialah tekstil, salah satunya di Kampung Batik Laweyan.

Kampung Batik Laweyan sebetulnya sudah memiliki IPAL komunal sejak tahun 2009. Gibran mengaku belum mengetahui alasan penggunaan IPAL komunal tidak optimal.

"Solo industri besar nggak ada, industri kecil saja, batik. Di sana ada IPAL juga, tapi kurang optimal. Nggak tahu kenapa," kata Gibran saat dijumpai di SMKN 2 Solo, Kamis (9/9/2021).

Gibran menyebut untuk pencemaran Bengawan Solo yang mengakibatkan Instalasi Pengolahan Air (IPA) PDAM Solo setop beroperasi bukan karena industri tekstil di Solo melainkan industri ciu di Sukoharjo. Gibran pun bakal bicara dengan Bupati Sukoharjo soal masalah ini.

"Yang terjadi sekarang itu kan dari pabrik Sukoharjo. Nanti saya koordinasi dengan bupati setempat," ujar dia.

Sementara itu, Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan, Alpha Febela, membenarkan IPAL di sentra batik itu tidak berfungsi optimal. Alasannya, beberapa rumah produksi tidak dapat terhubung ke IPAL.

"Industri kecil sampai yang besar di sini ada sekitar 25-30 industri. Sebenarnya yang besar-besar sudah tertampung di IPAL. Beberapa tidak bisa masuk karena lokasinya lebih rendah dari IPAL," ujar Alpha saat dihubungi detikcom.

Menurutnya, sudah ada perencanaan pembuatan dua unit IPAL guna memfasilitasi seluruh perajin batik di Laweyan. Namun hingga saat ini belum terealisasi.

"Kita rencana mau punya dua IPAL lagi, tapi tidak mungkin kita bangun sendiri karena biayanya besar. Dana pemerintah juga masih fokus untuk penanganan COVID-19," katanya.

Meski demikian, dia menegaskan Kampung Batik Laweyan terus mengembangkan batik ramah lingkungan dengan penggunaan pewarna alami. Namun saat ini pihaknya terkendala bahan baku pewarna alami yang masih minim.

"Kami terus mengembangkan kampung batik yang ramah lingkungan dengan menggunakan bahan pewarna alami. Tapi saat ini bahannya memang masih sulit didapat," katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Solo, Gatot Sutanto, mengatakan tengah menyiapkan pengelolaan limbah industri kecil. Pengelolaan ini mengadopsi sistem sedot tinja.

"IPAL kita punya di Sondakan, Kampung Batik Laweyan, di Mojosongo ada sentra tahu tempe. Tapi kalau yang kecil-kecil tersebar itu kan susah," kata Gatot saat dihubungi detikcom, hari ini.

Dengan mengadopsi sistem sedot tinja, pemkot akan mendatangi industri kecil untuk menyedot limbah produksi. Hal ini juga dilakukan untuk mengatasi keterbatasan lahan pembuatan IPAL.

"Kita mengadopsi seperti tinja, industri kecil itu limbahnya kita ambil seperti sedot tinja. Solo kan UMKM tersebar, kalau komunal itu keluhannya di lahan. Makanya kita jemput bola," ujar dia.

(ams/rih)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT