Round-Up

Ada Kelompok Pengawalan Truk di Balik Ratusan Teror Lempar Batu di Pantura

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Selasa, 24 Agu 2021 08:11 WIB
Polda Jateng jumpa pers kasus teror lempar batu di jalur Pantura, Senin (23/8/2021).
Nur Hamid, Pelaku lempar batu ke kendaraan di Pantura (Foto: Angling AP/detikcom)
Semarang -

Pelaku teror lempar batu ke truk dan mobil yang melintas di Pantura Jawa Tengah dibekuk Polda Jateng. Ternyata pelaku diperintah seseorang agar membuat resah dan ada dugaan pembentukan kelompok pengawalan untuk truk.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jateng, Kombes Djuhandani Rahardjo Puro mengatakan pelaku bernama Nur Hamid (43) warga Weleri Kendal itu ternyata beraksi dengan mendapat upah Rp 250 ribu tiap minggu untuk melakukan aksinya.

"Adapun motif pelaku motif ekonomi. Pelaku dapat Rp 250 ribu per minggu untuk laksanakan target operasi. Dia bertemu dengan tersangka yang masih DPO (buron). Pelaku ini diberikan orek-orekan (catatan) di suatu tempat dimana dia harus operasi dan ada uang operasional," kata Djuhandani di Mapolda Jateng, Senin (23/8/2021).

"Targetnya acak, tapi lebih ke mobil atau truk barang. Mobil anggota (polisi) beberapa kali hampir jadi target," imbuhnya.

Dari pengakuan tersangka, ia melakukan aksinya karena ada dugaan pembentukan organisasi pengawalan truk. Sehingga kondisi dibuat meresahkan dengan adanya pelemparan batu.

"Ini dimaksudkan untuk bentuk organisasi pengawalan truk di kawasan Kendal dan Pantura," tegasnya.

Aksi teror lempar batu sudah dilakukan sejak Desember 2019 hingga Agustus 2021 dan 289 kali dilakukan di Kabupaten Semarang, Kabupaten Kendal, dan ada beberapa di Kota Semarang.

"Saat ini berdasarkan penyelidikan dan pengamanan tersangka ada 289TKP. Dari aduan tertulis polsek-polres ada 195 TKP. Dirinci di Kendal 118 TKP, Kabupaten Semarang 76 TKP dan kota Semarang 1 TKP.

Penyelidikan tim opsnal ditemukan di medsos dan lainnya ada 94 TKP meliputi di Kabupaten Kendal 51 TKP, Kabupaten Semarang 41 TKP dan kota Semarang 2 TKP. Kejadian ini sudah terjadi sekitar Desember 2019 sampai Agustus 2021," jelas Djuhandani.

"Pernah dalam semalam 20 TKP," imbuhnya.


Selanjutnya: cara pelaku berinteraksi dengan otak aksi