BNPT Sebut Ada yang Galang Simpatisan Isu Taliban, Menag: Kejauhan Lah

Febrian Chandra - detikNews
Jumat, 20 Agu 2021 14:20 WIB
Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut saat kunker di Blora, Jumat (20/8/2021)
Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut (Foto: Febrian Chandra/detikcom)
Blora -

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Boy Rafli Amar menyebut ada pihak-pihak tertentu yang berusaha menggalang simpatisan atas isu Taliban. Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut menyebut terlalu jauh mengaitkan kondisi Afganistan saat ini dengan kondisi di Indonesia.

"Afganistan kejauhan lah. Memang kenapa dan apa?" kata Gus Yaqut saat ditemui detikcom usai melakukan kunjungan kerja di kantor Kemenag Blora, Jumat (20/08/2021).

Yaqut meminta masyarakat Indonesia bijak tidak mencampuri konflik yang terjadi di Afganistan. Dia berpesan masyarakat Indonesia tetap kondusif dan menjaga kerukunan antarumat beragama.

"Saya kira apa yang terjadi di Afganistan biarlah terjadi di Afganistan. Kita menjaga umat kita supaya kalau muslim kembali ke ajaran Rasulullah menjadikan Islam sebagai rahmatan lil 'alamin, rahmat bagi sekalian alam," terangnya.

"Agama lain juga seperti itu, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha juga mengajarkan kasih sayang. Jadi begitu, kembali ke masing-masing," sambung Gus Yaqut.

Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Boy Rafli Amar mengimbau seluruh masyarakat bersikap bijak dalam menyikapi konflik yang terjadi di Afghanistan. Sebab, dari hasil pemantauan BNPT, ada kelompok yang berusaha menggalang simpatisan.

"Tentunya kita harus hati-hati dalam menyikapi perkembangan yang terjadi di Afganistan, yang dilanda konflik berkepanjangan itu. Jangan sampai masyarakat salah bersimpati, karena berdasarkan pemantauan kami ada pihak-pihak tertentu yang berusaha menggalang simpatisan atas isu Taliban. Ini sedang kita cermati," kata Boy usai bersilaturahmi dengan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka, di Balai Kota Solo, Kamis (19/8), melalui keterangan tertulis, Jumat (20/8).

Boy meminta masyarakat Indonesia bijak dan tetap sadar bahwa apa yang terjadi di Afghanistan tersebut merupakan persoalan dalam negeri. Dia menekankan masalah pergerakan yang terjadi di Afghanistan adalah sesuatu yang tidak boleh terjadi di Indonesia.

"Jangan sampai masyarakat terpengaruh masuk ke dalam aksi-aksi yang tidak perlu. Karena kita adalah negara yang memiliki ideologi dan konstitusi yang mewajibkan kita untuk bela negara sendiri, bukan bela negara lain," tegas mantan Kapolda Papua ini.

Menyinggung kemungkinan pengaruh pergerakan Taliban dengan kelompok jaringan terorisme Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) di Indonesia, Boy melihat Taliban tidak punya afiliasi dengan ISIS. Kendati demikian, Taliban dalam pergerakannya terjebak dalam perbuatan kekerasan yang dalam terminologi hukum disebut sebagai perbuatan teror.

"Selama berupaya meraih kekuasaan, Taliban melakukan kekerasan. Itu yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia. Taliban jangan dijadikan role model bagi anak muda. Karena bertentangan dengan falsafah dan ideologi kita Pancasila," ucap mantan Kepala Divisi Humas Polri ini.

Simak video 'Demonstran Anti-Taliban Kembali Dibubarkan dengan Tembakan':

[Gambas:Video 20detik]



(ams/mbr)