Cek Bendungan Sungai Bawah Tanah Gunungkidul, Penyelam TNI AL Diterjunkan

Pradito Rida Pertana - detikNews
Selasa, 10 Agu 2021 10:58 WIB
Tim penyelam dari TNI Angkatan Laut melakukan persiapan di kapal KN SAR 101 Purwerejo di Pelabuhan Kumai, Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Kamis (01/01/2015). Tim penyelam dari TNI AL dibantu dengan Basarnas kembali mencoba untuk mendekati titik jatuhnya pesawat AirAsia setelah kemarin gagal mencapai titik jatuhnya pesawat akibat cuaca buruk.
Ilustrasi tim penyelam TNI AL. (Foto: Grandyos Zafna)
Gunungkidul -

Tim penyelam TNI AL dari Dinas Penyelaman dan Penyelamatan Bawah Air (Dislambair) Koarmada II melakukan survei dan pendataan di bendungan sungai bawah tanah Bribin II, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Hal itu berkaitan dengan pengaktifan kembali bendungan tersebut.

Direktur Utama PDAM Tirta Handayani Gunungkidul Toto Sugiharta menjelaskan bahwa kegiatan yang melibatkan TNI Angkatan Laut (AL) itu kegiatan dari Balai Besar Wilayah Serayu-Opak (BBWSO).

"Jadi itu kegiatan dari BBWSO untuk mengecek sedimen, pipa pelimpah dan kondisi bendung," katanya saat dihubungi detikcom, Selasa (10/8/2021).

Pasalnya, kata Toto, Bendungan Bribin II akan kembali diaktifkan. Sedangkan proyek fisik bendungan tersebut akan dimulai pada tahun 2022.

"Untuk Bribin II ini memang akan diaktifkan kembali. Di mana tahun anggaran 2021 pekerjaan redesign dan tahun anggaran 2022 untuk pekerjaan fisiknya," ucapnya.

Perlu diketahui, Sungai Bawah Tanah Bribin II terletak di Pedukuhan Sindon, Kalurahan Dadapayu, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Kondisi geomorfologi sebagian besar wilayah Kabupaten Gunungkidul adalah daerah karst, yang ditandai dengan minimnya sungai permukaan dan berkembangnya jalur-jalur sungai bawah tanah (SBT).

Setiap tahun dalam musim kemarau, di daerah karst Pegunungan Seribu selalu mengalami kekeringan, hal ini disebabkan karena kelangkaan air permukaan. Dari hasil survei tahun 1980-an diketahui adanya pola aliran sungai bawah tanah dengan potensi debit yang cukup besar (Seropan, Bribin, Baron, Ngobaran).

Dalam kurun waktu 1992-1996 telah dibangun sistem penyediaan air baku Bribin I dengan menggunakan sistem pemompaan dan pipanisasi untuk menyuplai air baku bagi 75.000 jiwa di wilayah selatan Kabupaten Gunungkidul. Dengan sistem pemompaan, biaya operasional dan pemeliharaan setiap tahun selalu mengalami kenaikan sehingga biaya produksi air per meter kubik menjadi sangat mahal.

(sip/mbr)