Tekan Kematian Corona, Sultan Yogya Minta Isoman Hanya untuk Bergejala Ringan

Heri Susanto - detikNews
Rabu, 04 Agu 2021 18:42 WIB
Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, Jumat (11/6/2021).
Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, Jumat (11/6/2021). (Foto: Heri Susanto/detikcom)
Yogyakarta -

Satgas Penanganan COVID-19 mengungkap enam provinsi yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai penyumbang angka kematian tertinggi. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X meminta bantuan Babinsa dan Bhabinkamtibmas untuk menjemput warga positif Corona bergejala yang isolasi mandiri (isoman) di rumah.

"Kami mendapatkan BKO (bawah kendali operasi), kami mohon Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan petugas yang lain door to door ke isoman. Berulang-ulang (mendatangi) tidak bisa sekali," kata Sultan di acara Sibakul Nyore Bersama Ngarsa Dalem, di Kompleks Kepatihan, Kantor Gubernur DIY, Rabu (4/8/2021).

"Yang gejala sedang dibawa ke isoter (isolasi terpadu). Yang isoman itu orang-orang yang positifnya ringan saja. Sekarang kan tidak tahu, begitu sudah berat, di rumah sakit. Kami ingin mengurangi harian COVID yang meninggal," jelasnya.

Di acara yang dihadiri koperasi penerima dana hibah dari Dana Keistimewaan dan para kepala desa (kades), Sultan meminta kades juga aktif terjun memantau kondisi masyarakatnya yang isoman. Jika menemukan yang bergejala sedang dan berat, segera untuk dibawa ke isoter dan rumah sakit.

Ia mengungkapkan, kenaikan kasus Corona di DIY begitu tinggi di bulan Juli. Selama tiga hari, dari 27 ribu kasus positif meningkat drastis bertambah 10 ribu kasus menjadi 37 ribu kasus. Pemda DIY bersama pemerintah pusat pun kini terus menyiapkan tempat tidur minimal 10 persen untuk isoter dan kamar di rumah sakit.

"Kami membangun UC, Kagama, Diklat PU, RS Respati, sudah semuanya 1.081 bed. Tapi dengan yang isoman dalam waktu tiga hari dari 27 ribu menjadi 37 ribu. Harapan kami isoman saja yang ringan. Berati kami tidak mungkin 10 persen saja, harus ke rumah sakit, ke isolasi terpusat yang sedang. Tapi kan tidak ada (warga yang mau menjalani isolasi di isoter dan rumah sakit)," katanya.

Sultan menegaskan, bagi penyintas yang akan menjalani isoman, ada syarat mutlak yang harus dipenuhi. Yaitu kamar mandi terpisah antara penyintas positif dengan anggota keluarga yang negatif.

"Kalau satu kamar mandi untuk yang negatif dan positif, yo kabeh (semua) pasti ketularan, semua pasti kena dalam waktu yang cepat. Begitu mencium sudah ora isa ngrasakke (tak bisa merasakan), langsung masuk rumah sakit saja. Ini yang menimbulkan masalah baru (dibawa ke rumah sakit sudah berat)," ujarnya.

Selengkapnya di halaman selanjutnya...