Kakek Ini Hendak Jual Tanahnya Tapi Malah Ditahan Polisi, Kok Bisa?

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Selasa, 03 Agu 2021 08:44 WIB
Ilustrasi Penipuan
(Foto: Ilustrasi oleh Mindra Purnomo)
Semarang -

Seorang kakek di Semarang ditahan di Polsek Gunung Pati karena terjerat kasus jual beli tanah. Namun kakek berusia 63 tahun bernama Suryadi itu merasa dikriminalisasi dan dijebak.

Kuasa hukum Suryadi, Yohanes Sugiwiyarno mengatakan awalnya kliennya didatangi tetangganya berinisial M yang menanyakan soal tanah waris milik Suryadi seluas 2.300 m2 di Desa Salakan, Kelurahan Mangunsari, Kecamatan Gunungpati tahun 2020 lalu.

"Mundhor ini makelar. Awal penjual ini menawarkan Rp 1 juta per meter. Kemudian Mundhor alasannya tanah akan digunakan sebagai gedung haji, untuk ibadah untuk umat, sehingga Pak Suryadi juga berniat ingin beribadah dan menurunkan harga jadi Rp 900 ribu per meter. Itu sebetulnya sudah deal," kata Yohanes dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (3/8/2021).

Kemudian M mempertemukan Suryadi dengan Sukandar yang disebut merupakan pembeli. Dalam pertemuan itu awalnya disebut ada DP sebanyak Rp 50 juta, tapi yang diserahkan RP 30 juta sedangkan sisanya kembali dibawa Sukandar.

"Uang Rp 30 juta diberikan sebagai tanda jadi. Namun yang Rp 20 juta dibawa oleh Pak Sukandar alasannya untuk jaga-jaga. Dan sebenarnya Pak Suryadi ini menolak dengan alasan langsung pelunasan. Kalau memang dia pembeli kan diserahkan semua, Rp 50 juta. Ini kan Sukandar seperti makelar juga," tegasnya.

"Bapak (Suryadi) sebenarnya maunya langsung lunas tidak mau DP-DP-an. Kemudian bapak menanyakan, itu mau dilunasi kapan. Sampai ketiga kali, pertama belum, mengelak, kedua di November itu katanya bulan Desember akan dilunasi. Jadi sudah tiga kali," imbuh anak Suryadi, Muhammad Abdullah.

Yohanes kemudian menjelaskan hal yang dirasa janggal yaitu kuitansi yang justru dikeluarkan Sukandar, bukan oleh Suryadi selaku penjual atau pemilik tanah. Bahkan juga dibubuhkan catatan jika tidak jadi dijual maka harus mengganti DP 10 kali lipat.

"Kuitansi ini yang mengeluarkan calon pembeli. Mestinya kalau kuitansi yang mengeluarkan kuitansi adalah yang menerima uang. Tetapi ini justru yang mengeluarkan uang, yang membuat kutansi sendiri, dipakai sendiri, ditulis sendiri. Ini tidak benar," ujar Yohanes.

"Kuitansi tidak jelas harganya. Ada jebakannya. Kalau penjual batalkan, ganti rugi 10 kali lipat," imbuhnya.

Kemudian terjadi perselisihan karena Sukandar bermaksud membeli 2.300 m2 lahan itu dengan harga Rp 900 juta bukan Rp 900 ribu per meter seperti yang dimaksud Suryadi.

"Kemudian dibolak-balik, putar-putar buat cerita dibuat alibi harganya menjadi global, Rp 900 juta. Jatuhnya cuma Rp 390 ribu per meter. Itu selisihnya total hampir Rp 1,4 miliar. Kemudian pihak pembeli ini minta ganti rugi tidak main main, 10 kali lipat," katanya.

Suryadi kemudian dilaporkan ke Polsek Gunungpati Semarang dan ditahan sejak 26 Juli 2021. Yohanes merasa penindakan terhadap kliennya terburu-buru karena kasus tersebut seharusnya masuk ranah perdata. Ia pun menjelaskan kliennya kebingungan karena hanya berlatar belakang petani. Awalnya Suryadi sudah beritikad membayar semampunya Rp 90 juta. Namun tetap ditolak oleh Sukandar.

"Pak Suryadi ini tidak berpendidikan, kerjanya cuma ke sawah saja, dia tidak punya pengalaman. Bagaimana menipu orang yang pintar. Sedangkan pak Mundhor dan Sukandar ini RT dan Rw. Gak mungkin lah warga menipu RT dan RW. Ini kebangeten sekali," tegasnya.

Yohanes menjelaskan pihaknya akan mengambil langkah hukum dengan mengadu dan melapor ke Polda Jateng bahkan hingga Presiden Jokowi dan juga langkah pra peradilan.

"Ini Kriminalisasi. Hukum harus transparan, kita akan laporan ke Propam Polda tembusan langsung ke Mabes Polri. Saya juga akan melaporkan ke Satgas hukum termasuk presiden Joko Widodo dan juga jaksa agung. Berikutnya kita akan menempuh pra peradilan yang melampaui batas kewenangan. Ini sebetulnya masih prematur, masih kabur tetapi dipaksakan dipidana," ujarnya.

Terpisah, Kapolsek Gunungpati AKP Agung Yudiawan mengatakan pihaknya masih menangani kasus tersebut. Dari penyelidikan sementara Suryadi disebut juga menerima uang DP dari orang lain sebesar Rp 250 juta dan Suryadi tidak mau mengembalikan DP yang diberi pelapor sebelumnya.

"Dari hasil penyelidikan sampai saat ini pelaku atau terduga menerima uang dari pembeli pertama sekitar 30 juta kemudian menjual lagi ke pembeli lain dengan mendapat uang DP Rp 250 juta ditotal Rp 280 juta," kata Agung, Selasa (3/8/2021).

"Intinya si terduga tidak mau mengembalikan uang DP pertama yang diberikan oleh Bapak Sukandar," imbuhnya.

(alg/mbr)