Harga Cabai di Petani Kudus Anjlok Terdampak PPKM Darurat

Dian Utoro Aji - detikNews
Jumat, 30 Jul 2021 14:13 WIB
Petani cabai di Desa Kesambi Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jumat (30/7/2021).
Petani cabai di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jumat (30/7/2021). (Foto: Dian Utoro Aji/detikcom)
Kudus -

Harga cabai di petani Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, merosot tajam. Harga per kilogramnya di bawah Rp 10 ribu.

"Sekarang memprihatinkan soalnya cabai di bawah Rp 10 ribu per kilo dan petani ongkosnya obat mahal. Kami menginginkan campur tangan dari pemerintah yaitu harga minimal cabai Rp 10 ribu (per kilo). Sekarang Rp 6 ribu sampai Rp 7 ribu per kilo," kata Ketua Kelompok Tani Karya Tani Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Surahman, kepada wartawan, Jumat (30/7/2021).

Menurutnya ada sejumlah faktor penurunan harga cabai di tingkat petani. Salah satu faktor penyebabnya yakni PPKM Darurat yang diperpanjang sampai dengan 2 Agustus 2021.

"Penurunan harga itu mungkin PPKM terus kedua mungkin musim panen," ungkapnya.

Dia menjelaskan ada 60 hektare lahan yang ditanami cabai di Desa Kesambi pada tahun ini. Menurutnya kualitas cabai pun tidak diserang hama. Meski demikian dia mengaku rugi banyak karena harganya di bawah Rp 10 ribu.

"Kualitasnya bagus, alhamdulillah selamat. Ini jenisnya cabai lokal atau cabai jelak. Kerugian pokoknya rugi sekali tidak bisa kira-kira," ucapnya.

Diwawancara dalam kesempatan yang sama, Kasi Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus, Arin Hikmah, mengatakan Desa Kesambi merupakan sentra petani cabai. Terdapat 70 hektare lahan ditanami cabai di desa itu, 50 hektare di antaranya sudah dipanen raya.

"Dan memang kondisi saat ini puncak di mana-mana dan juga terkendala pemasaran," jelas Arin.

Arin mengatakan sejumlah kendala dialami petani cabai. Di antaranya terkendala dengan pemasaran karena diberlakukan PPKM Level 4.

"Saat ini terkendala pemasaran permintaan pasar menurun. Simpel saja seperti pasar Djarum (lokasi di dekat pabrik Djarum) pasar tradisional itu menurun drastis, karena ada PPKM sebagainya," jelas Arin.

Dia mengatakan Pemkab Kudus berencana untuk membuat teknologi pascapanen. Yakni dengan mengolah cabai basah menjadi cabai kering. Dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan harga jual cabai dari kalangan petani.

"Perencanaan kami di dinas harga anjlok salah satunya penerapan teknologinya di pusat ada beberapa fasilitasi, fasilitas sarpras pengolahan cabai basah menjadi cabai kering. Nah karena posisi untuk memasukkan petani ke perusahaan itu adalah berupa kering. Maka peran pemerintah membantu petani supaya meningkatkan jual produk itu disentuh dengan teknologi pascapanen itu," kata Arin.

"Harapan kita memang menjadi rencana tahun depan kami mendapatkan plot desa ini sentra paling tidak meminimalkan menyerap harga anjlok dengan produk dengan harga lain," sambung Arin.

(sip/rih)