Shelter Isolasi Terpusat di Klaten Masih Minim Peminat

Achmad Syauqi - detikNews
Selasa, 27 Jul 2021 18:37 WIB
Evakuasi warga terkonfirmasi COVID-19 ke GOR Gelarsena, Klaten
Evakuasi warga terkonfirmasi COVID-19 ke GOR Gelarsena, Klaten (Foto: Achmad Syauqi/detikcom)
Klaten -

Keterisian shelter isolasi terpusat di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, masih rendah meski sudah diterapkan kontingensi. Dari kapasitas 914 bed baru terisi 221 bed atau 22,6 persen.

Jumlah tersebut diperoleh dari data keterisian Isolasi Terpusat Satgas Percepatan Pengendalian COVID-19 Kabupaten Klaten tanggal 26 Juli. Dari data tersebut, masih tersedia 608 bed kosong atau 73,34 persen.

Tim Ahli Satgas Percepatan Pengendalian COVID-19 Kabupaten Klaten, Roni Roekmito, menjelaskan Satgas saat ini memprioritaskan lokasi isolasi terpusat GOR Gelarsena. Di GOR Gelarsena ini terisi 49 orang, dan masih tersedia 52 bed.

"Isolasi terpusat GOR menjadi prioritas untuk diisi. Minimal dengan target empat pasien per kecamatan," kata Roni kepada detikcom, Selasa (27/7/2021).

Roni menyebut kebijakan itu merupakan hasil rapat Satgas dengan stakeholder terkait. Selain GOR, RS Darurat di PKU Muhammadiyah Prambanan akan dioptimalkan.

"RS Darurat PKU Prambanan kita upayakan untuk segera dipenuhi fasilitasnya. Terutama untuk pasokan oksigen," lanjut Roni.

Roni menyebut ketersediaan oksigen menjadi perhatian serius. Pokja yang sudah dibentuk diharapkan bisa solutif saat menghadapi kendala oksigen di lapangan.

"Pokja oksigen akan lebih serius mengatasi masalah kelangkaan oksigen. Pokja sudah dibentuk dua pekan lalu," ucap Roni.

Di sisi lain, Roni menyebut pasokan bantuan oksigen terus berdatangan. Bahkan ada informasi stok tabung oksigen kosong di toko mulai disuplai.

"Ada informasi tabung kosong mulai didatangkan toko di Klaten. Hanya untuk membeli syaratnya harus jelas, si pengguna yang sakit dan kopian KTP," lanjut Roni.

Suka-Duka Bujuk Warga Positif Corona ke Shelter Terpusat

Terpisah, Ketua Satgas Percepatan Pengendalian COVID-19 Kecamatan Klaten Tengah, Sofan, mengungkap penjemputan warga positif COVID-19 tidak mudah. Di wilayahnya sempat ada satu warga hasil tracing positif Corona tapi nekat bekerja sebagai tukang parkir.

"Alamat di Ceper tapi hasil tracing di-rapid di Puskesmas Klaten Tengah. Hasilnya positif tapi malah nekat kerja jadi tukang parkir," ungkap Sofan.

Mengetahui itu, kata Sofan, tim kecamatan melacak ke simpang lima lokasi yang bersangkutan bekerja. Akhirnya yang bersangkutan dijemput ke shelter isolasi terpusat.

"Sebab sulit kita serahkan ke TNI dan Polri. Akhirnya dikirimkan bersedia untuk ke Donohudan," tambah Sofan.

Sementara itu, Camat Juwiring, Herlambang Jaka Santosa, menceritakan suka duka pendekatan kepada warga yang positif Corona. Proses pendekatan bahkan dilakukan hingga dua hari melibatkan kades maupun camat setempat.

"Yang utama ya bidan, kades dan camat. Kalau ada yang waton suloyo baru kita minta bantuan TNI dan Polri," ungkap Herlambang pada wartawan.

Meski begitu, menurut Herlambang tak semua warga sulit dibujuk. Sebab ada juga warga yang dengan kesadaran diri meminta diisolasi ke Asrama Haji Donohudan, Boyolali.

"Motivasi pengin sembuh, katanya daripada kanan-kiri takut (tertular) malah pengin ke Donohudan. Kita fasilitasi," terang Herlambang.

Hal senada juga diungkapkan Camat Kebonarum, Mudzakir. Mudzakir menyebut banyak kendala yang ditemukan di lapangan.

"Hari ini satu, kemarin juga satu. Kendalanya banyak yang tidak masuk saat diasesmen, karena sakit, lansia, merawat keluarga dan lainnya sehingga tidak mungkin dibawa," ungkap Mudzakir.

(ams/rih)