Kematian Corona di Bantul Capai 890 Kasus, Mayoritas Tak Dirawat di RS

Pradito Rida Pertana - detikNews
Selasa, 27 Jul 2021 14:48 WIB
Suasana di Rumah Sakit Lapangan Khusus COVID-19 (RSLKC) di Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul yang penuh.
Suasana di Rumah Sakit Lapangan Khusus COVID-19 (RSLKC) di Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul yang penuh. (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Bantul -

Kasus kematian akibat virus Corona atau COVID-19 di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat angka 890 kasus. Dinas Kesehatan Bantul menyebut mayoritas kasus meninggal itu karena tidak mendapatkan perawatan di rumah sakit rujukan COVID-19.

"Kematian yang terjadi itu kan karena sekarang banyak masyarakat yang bergejala sedang bahkan menuju ke berat, tetapi tidak bisa mengakses rumah sakit atau fasilitas rumah sakit rujukan yang seharusnya menangani mereka," kata Kepala Dinkes Bantul Agus Budi Raharja saat ditemui di Rumah Sakit Lapangan Khusus COVID-19 (RSLKC) di Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Selasa (27/7/2021).

Gus Bud, sapaannya, menyebut banyak di antara kasus Corona di Bantul yang baru mendapatkan perawatan setelah kondisinya memburuk. Bahkan, mayoritas sudah tidak tertolong.

"Kalaupun sampai mendapat tempat rujukan itu sudah terlambat, tapi ada juga yang tidak sempat mendapat rujukan," terangnya.

Gus Bud mengaku setiap malam pihaknya membuat daftar triase atau daftar pasien prioritas yang mendapatkan perawatan di rumah sakit rujukan COVID. Kriteria triase itu menyesuaikan kondisi pasien Corona tersebut.

"Sehari paling tidak harus membuat triase 30 list yang harus masuk rumah sakit. Dengan melihat penurunan kondisi, baik saturasi oksigen dan perburukan kondisi," ujarnya.

"Dan hampir semua rumah sakit rujukan penuh, dan rata-rata BOR di atas 93 persen, sehingga memang sulit mencari rumah sakit rujukan," lanjut Gus Bud.

Terlebih, shelter isolasi di tingkat kabupaten tidak memberikan perawatan bagi pasien COVID-19 bergejala berat. Keterbatasan akses ke rumah sakit rujukan COVID-19 itulah yang ditengarai membuat angka kematian semakin melejit.

"Kenapa terjadi ya memang karena kondisi seperti itu, apalagi di shelter hanya untuk memisahkan masyarakat yang positif dan tidak. Shelter kabupaten hanya untuk gejala sedang, kami hanya fasilitasi oksigen beberapa dan oksigen konsentrator, obat-obatan," katanya.

"Kelasnya harus ke rumah sakit. Tapi untuk mengakses rumah sakit sudah banyak yang full, bahkan IGD juga sudah sering buka tutup," imbuh Gus Bud.

Selain itu pihaknya juga berupaya menambah bed bagi pasien Corona di Bantul. Di antaranya RSLKC Bambanglipuro akan menambah 30 tempat tidur, Rumah Sakit Panembahan Senopati (RSPS) Bantul akan menambah 14 tempat tidur kritikal dan juga Rumah Sakit Hardjolukito dan Rumah Sakit Muhammadiyah Bantul.

"Sementara untuk penanganan ibu hamil positif COVID-19 yang akan melahirkan tanpa kedaruratan akan dipusatkan di RSLKC dan RS UII Pandak Bantul. Terus untuk ibu positif akan melahirkan dengan kedaruratan akan ditangani oleh RS PKU Muhammadiyah dan RSPS Bantul," ucapnya.

Untuk diketahui, hingga Senin (26/7) pukul 15.30 WIB kasus positif COVID-19 di Bantul bertambah 533 sehingga total menjadi 38.400 kasus. Kemudian ada 309 warga yang dinyatakan sembuh, sehingga total kasus pulih dari COVID-19 di Bantul berjumlah 24.988 orang.

Sedangkan untuk pasien meninggal bertambah 14 orang sehingga total menjadi 890 kasus. Selain itu, pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19 yang menjalani isolasi dan perawatan dokter ada 12.522 orang.

(ams/mbr)