Epidemiolog UGM: PPKM Darurat Belum Efektif Turunkan Kasus COVID-19

Jauh Hari Wawan S. - detikNews
Jumat, 23 Jul 2021 12:59 WIB
Poster
Ilustrasi PPKM Darurat (Foto: Edi Wahyono)
Yogyakarta -

Pemerintah memperpanjang masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat hingga 25 Juli mendatang. Namun Epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Satria Wiratama menilai penerapan PPKM Darurat belum memberikan dampak penurunan jumlah kasus positif COVID-19.

"Belum terlihat penurunannya. Kalaupun turun diikuti jumlah tes yang turun juga," kata Bayu Satria kepada wartawan, Jumat (23/7/2021).

Meski sempat terjadi penurunan, menurut Bayu, angka tersebut lebih disebabkan jumlah sampel yang dites menurun. Hal ini pun sudah diakui oleh pemerintah. Sementara persentase jumlah kasus positif cenderung stabil.

"Kalau jumlah yang dites turun otomatis jumlah kasus turun juga. Bisa dilihat dari positivity rate yang cenderung stabil," sebutnya.

Bayu berujar, tingginya kasus positif COVID-19 dalam dua bulan terakhir ini imbas masyarakat yang abai dengan protokol kesehatan. Termasuk saat melaksanakan vaksinasi.

"Bukan karena vaksinnya, karena vaksin aman dan tidak akan menyebabkan sakit COVID-19. Yang mungkin terjadi adalah pelaksanaannya yang tidak terkendali dan menyebabkan 5M tidak bisa dijaga," katanya.

Lebih lanjut, ia melihat jumlah kasus yang meningkat kemungkinan sudah terjadi sejak lama. Namun tidak terpantau karena jumlah testing yang masih minim.

"Kita tidak pernah bisa cukup testingnya sehingga data yang ada itu tidak mencerminkan (data) yang sebenarnya. Sehingga mungkin sekali di Juni sudah tinggi kasusnya namun banyak yang masih undetected," katanya.

"Bahkan diduga sejak Mei banyak kasus yang tidak terdeteksi sudah ada di masyarakat makanya bisa naik sangat tinggi di Juli," sambungnya.

Dia menyarankan agar pemerintah gencar melakukan program vaksinasi agar herd immunity segera tercapai. Namun apabila laju vaksinasi harian masih rendah, maka target bulan September untuk tercapainya herd immunity di Jawa-Bali akan sulit.

"Laju vaksinasi harian kita masih sangat rendah. Kecuali kita bisa 2 juta sehari," katanya.

Soal banyaknya kasus kematian pasien COVID-19 yang meninggal di rumah sakit dan isoman di rumah, Bayu mengatakan pemerintah perlu memperbanyak lagi lokasi dan tempat isolasi terpusat sehingga bisa terpantau dengan baik dan bisa di-screening lebih awal bagi mereka yang mengarah ke gejala yang lebih berat.

"Pasien dengan gejala berat bisa terpantau dengan baik," pungkasnya.

Simak video 'Drastis! Kasus COVID-19 Indonesia Tambah 1 Juta dalam Sebulan':

[Gambas:Video 20detik]



(mbr/ams)