7 RS Darurat Corona Dibuka di DIY, Tambah 850 Bed

Heri Susanto - detikNews
Kamis, 22 Jul 2021 12:51 WIB
Poster
Ilustrasi nakes COVID-19 (Foto: Edi Wahyono)
Yogyakarta -

Kementerian Pekerjaan Umum, UGM, dan Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan menambah tujuh rumah sakit darurat COVID-19. Dengan tambahan 7 RS darurat Corona ini akan ada penambahan 850 bed pasien COVID-19 di DIY.

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Kadarmanta Baskara Aji menjelaskan, berdasarkan skenario dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan tren kenaikan kasus positif di DIY, dibutuhkan minimal 3.000 bed. Namun sampai saat ini, DIY baru memiliki 1.462 bed yang akan ditambah dengan 850 bed baru.

"Jika peningkatan 30 persen, kekurangan bed kit kita sekitar 3 ribu. Saat ini, kami masih mencoba untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan bekerja sama dengan semua pihak," kata Aji melalui keterangan tertulis, Kamis (22/7/2021).

Aji menyebut Pemda DIY telah mendapatkan beberapa pihak yang bersedia mengubah tempatnya menjadi rumah sakit darurat atau pun lapangan. Di antaranya UC UGM, Wisma Kagama, Asrama UNY, Rusun Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), dan Balai Diklat Pekerjaan Umum di Jalan Ngeksigondo.

"Sesuai dengan prinsip penambahan bed ini harus ada pengampu atau tenaga kesehatan yang memantau,"jelasnya.

Kepala Dinas Kesehatan DIY Pembajun Setianingastutie menambahkan, nantinya setiap rumah sakit darurat itu bakal diampu oleh rumah sakit rujukan COVID. Misalnya di Bantul, diampu RSUD Panembahan Senopati di Bantul.

"Yang sudah siap ada tujuh, yang sudah ada pendampingnya (tim kesehatan) UC UGM, Wisma Kagama oleh RS Akademik UGM, RS Respati oleh RSUD Prambanan, Balai Diklat Pekerjaan Umum, Jalan Ngeksigondo RS Bhayangkara. Lainnya, Asrama UNY dan Rusun Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu-Opak belum ada pendampingnya," kata Pembajun melalui jumpa pers virtual, hari ini.

"Dari hasil penjajakan, beberapa rumah sakit tersebut sudah memiliki pengampu, RS Respati diampu RSUD Prambanan ada 50 tempat tidur. Total semua sekitar 800 sampai 850 tempat tidur," sambungnya.

Pembajun menegaskan, untuk pembukaan RS darurat Corona ini, salah satu syaratnya adalah adanya rumah sakit pengampu. Sehingga diharapkan jika ada pasien kritis, rumah sakit pengampu bisa mengirimkan tenaga kesehatannya untuk menangani.

"Karena sifat-sifatnya urgent, kritis, dokter-dokter pengampu yang akan turun ke bawah kalau ada pengampunya," katanya.

Pembajun menyebut kendala pembukaan RS lapangan saat ini adalah mengenai kebutuhan tenaga kesehatan (nakes). Saat ini, Pemda DIY sudah memobilisasi nakes dari mahasiswa tingkat akhir dengan bekerja sama dengan Asosiasi Institusi Pendidikan.

"Tapi mereka ini tidak bisa menjadi yang utama. Makanya, tetap harus ada pengampu, nanti tinggal mahasiswa ini yang akan membantu nakes utama," jelasnya.

Pembajun mengungkapkan, untuk nakes mahasiswa ini, akan mendapatkan penilaian mata kuliah Praktik Kerja Lapangan (PKL). Kemudian, dari Dinkes memastikan seluruh kebutuhan relawan dari mahasiswa perguruan tinggi kesehatan ini terpenuhi.

(ams/mbr)