33 Pasien Meninggal Saat Krisis Oksigen, Dirut RS Sardjito: Perlu Audit

Jauh Hari Wawan S - detikNews
Jumat, 16 Jul 2021 20:12 WIB
dr Eniarti, Dirut RSUP Dr Sardjito yang baru. (Sumber: Situs RSJ Soerojo)
Foto: dr Eniarti, Dirut RSUP Dr Sardjito yang baru. (Sumber: Situs RSJ Soerojo)
Yogyakarta -

Direktur Utama (Dirut) RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta, Eniarti, yang baru dilantik beberapa waktu lalu angkat bicara soal krisis oksigen pada 3-4 Juli lalu. Dalam periode itu, terjadi lonjakan kematian di RSUP Dr Sardjito. Menurutnya, perlu ada audit soal penyebab kematian pasien saat itu.

Eniarti menceritakan, kondisi krisis oksigen pada dasarnya tidak hanya terjadi di RSUP Dr Sardjito. Ia mengatakan saat terjadi krisis oksigen itu pasien-pasien yang datang ke RSUP Dr Sardjito adalah kategori pasien yang berat dan kritis

"Memang oksigen ini masalah nasional kemudian memang pasien-pasien yang datang ke kita adalah kategori pasien yang berat dan kritis. Di mana memang pemakaian oksigennya cukup banyak dengan alat-alat ventilator dan HFNC dan lain sebagainya. Jadi rata-rata pasien itu akan dipasang alat-alat karena dalam kondisi kritis," kata Eniarti kepada wartawan saat jumpa pers secara daring, Jumat (16/7/2021).

Oleh karena itu, kata Eniarti, perlu adanya audit. Untuk mengetahui secara pasti penyebab kematian puluhan pasien itu. Apakah benar disebabkan kekurangan oksigen atau ada penyebab lain.

"Apakah memang kematian itu disebabkan oleh kekurangan oksigen dan lain sebagainya, ini perlu adanya audit. Audit ini ada tim yang sudah diberi amanah oleh rumah sakit yaitu tim audit medis dari komite medis itu sendiri," jelasnya.

Meski begitu, Eniarti menyebut jika tidak ada rumah sakit yang benar-benar tidak memiliki oksigen sama sekali. Oksigen selalu tersedia namun dalam jumlah yang sangat terbatas.

"Sebenarnya di setiap rumah sakit yang benar-benar tidak ada oksigen itu tidak pernah. Jadi selalu sebenarnya oksigen itu selalu tersedia tetapi tadi dengan jumlah yang sangat-sangat terbatas," urainya.

Eniarti mencontohkan, pihaknya selalu memikirkan persediaan oksigen untuk hari-hari berikutnya. Ia juga memastikan jika pemerintah tidak tinggal diam untuk mengupayakan ketersediaan oksigen.

"Contohnya sekarang ini kita sudah memikirkan untuk oksigen esok hari, untuk oksigen hari Minggu, untuk oksigen hari Senin karena ini kelangkaan secara nasional," jelasnya.

"Walaupun sebenarnya kementerian sudah sangat luar bisa dan teman penyedia juga sangat luar biasa. Yang sebelumnya untuk industri sudah dialihkan sampai 100 persen untuk kebutuhan farmasi yaitu untuk kebutuhan pelayanan di rumah sakit," tutup dia.

Diberitakan sebelumnya, pihak RSUP Dr Sardjito menjelaskan informasi terkait 33 pasien yang meninggal pasca oksigen central habis pukul 20.00 WIB, Sabtu (3/7). RSUP Dr Sardjito menegaskan pasien yang meninggal itu kondisi klinisnya yang memburuk.

Selengkapnya di halaman selanjutnya...