Hari Ini, 8 Warga di Kota Yogya Meninggal Saat Isoman COVID-19

Heri Susanto - detikNews
Senin, 12 Jul 2021 15:32 WIB
Coronavirus. COVID-19. Copy space. 3D Render
Ilustrasi kasus virus Corona atau COVID-19 (Foto: Getty Images/BlackJack3D)
Yogyakarta -

Sebanyak 8 warga di Kota Yogyakarta meninggal dunia saat isolasi mandiri (isoman) virus Corona atau COVID-19 hari ini. Sementara total kasus meninggal COVID-19 di Kota Yogyakarta mencapai 31 orang.

"Hari ini (12/7) ada delapan (warga) isoman yang meninggal, sedangkan total kematian (protokol COVID-19) 31 sampai siang ini pukul 13.00 WIB," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta, Nur Hidayat, saat dihubungi wartawan, Senin (12/7/2021).

Dayat, sapaannya, menjelaskan, sejak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat, kasus kematian pasien COVID-19 meningkat lima kali lipat lebih. Sebelum PPKM Darurat, pemakaman dengan prosedur COVID-19 di Kota Yogyakarta rata-rata tiga sampai lima jenazah sehari.

"Sekarang mencapai 20-25 kasus. Baru beberapa hari terakhir ada 30-an kasus. Yang isoman meninggal sebelum ledakan tidak ada, ini beberapa hari terakhir sekitar tiga sampai lima yang meninggal isoman. Hari ini termasuk tinggi," ujarnya.

Ia mengungkapkan, khusus kematian pasien COVID-19 yang isoman ini, baru terjadi dalam tiga hari terakhir. Karena rumah sakit di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mayoritas sudah penuh.

"Selain karena tidak bisa dirawat di rumah sakit, mereka ini rata-rata usia sudah sepuh. Kemudian, memiliki penyakit bawaan atau komorbid," katanya.

Ia menambahkan, BPBD Kota Yogyakarta kini melibatkan masyarakat untuk pemulasaraan jenazah, setelah terjadinya ledakan kasus kematian. BPBD membangun masing-masing tim di 14 kecamatan di Kota Yogyakarta.

"Sekarang, di seluruh kecamatan ada tim kubur COVID-19. Masing-masing ada empat sampai lima tim, setiap tim ada tujuh orang," tambahnya.

Dengan adanya lonjakan kasus COVID-19, lanjut Dayat, BPBD saat ini tengah membentuk tim kubur hingga di masing-masing kampung. Hal tersebut dilakukan sebagai antisipasi agar tidak terjadi penumpukan jenazah yang harus menunggu pemulasaraan.

"Agar jenazah juga tidak terlalu lama menunggu pemulasaraan. Sekarang, kelurahan sudah ada yang membentuk tim kubur. Harapannya masing-masing kampung ada tim kubur. Makanya, saat ini kami sedang mencoba mengusahakan alat pelindung diri (APD)," katanya.

Simak juga video 'Ringankan Beban Nakes, Pasien Gejala Ringan Diharapkan Isoman di Rumah':

[Gambas:Video 20detik]



(rih/ams)