Update

Walkot Semarang Sebut Penurunan Mobilitas Daerahnya Tertinggi se-Jateng

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Kamis, 08 Jul 2021 16:55 WIB
Data penurunan mobilitas saat PPKM Darurat di Jateng.
Data penurunan mobilitas saat PPKM Darurat di Jateng. (Foto: dok. Pemkot Semarang)
Semarang -

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, meluruskan soal Kota Semarang yang memiliki mobilitas tertinggi Jawa-Bali saat PPKM Darurat. Hendrar menegaskan bukan mobilitasnya yang tertinggi, namun penurunan mobilitasnya yang tertinggi.

Hal itu dikatakan oleh pria yang disapa Hendi lewat video yang diterima detikcom. Hendi menjelaskan penurunan mobilitas sebanyak 19 persen itu tertinggi se-Jawa Tengah.

"Alhamdulillah hasil kemarin mobilitas di Semarang sudah diturunkan 19 koma sekian persen. Itu tertinggi se-Jawa Tengah," kata Hendi dalam video tersebut, Kamis (8/7/2021).


Pernyataan itu juga dilengkapi data urutan daerah yang jumlah penurunan mobilitasnya tertinggi tanggal 5 Juli 2021 yaitu Kota Semarang (19,2 persen), Kabupaten Klaten (18,3 persen), Kabupaten Temanggung (17,7 persen).

Hendi juga menyebut meski tertinggi, pihaknya masih berupaya memenuhi target dari Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, yang menargetkan pekan ini turun 30 persen.

"Tapi Pak Luhut menyampaikan target harus penuhi minggu ini 30 persen," ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam, menjawab pertanyaan wartawan terkait apakah ada dampak penurunan kasus dengan PPKM Darurat. Kemudian Hakam menjelaskan soal rapat dengan Luhut.

Hakam sempat menyebut bahwa dengan angka penurunan mobilitas mencapai 19 persen, saat ini Kota Semarang menjadi daerah dengan mobilitas tertinggi di Jawa-Bali.

"Dua hari yang lalu, Pak Luhut, Pak Menko Marinvest sudah menyampaikan, mobilitas seseorang di tingkat Jawa dan Bali itu tertinggi di Kota Semarang, 19 persen, artinya kalau kita bisa menurunkan angka mobilitas seseorang pasti akan menurunkan kasus," kata Hakam.


Hakam juga mengatakan soal target penurunan 30 persen. Selain itu pihaknya juga memperkirakan penurunan kasus COVID-19 secara signifikan bisa dilihat pekan depan.

"Karena kasus masih banyak, belum kelihatan signifikan untuk penurunan kasus dalam dua tiga hari ini. Mudah-mudahan setelah tanggal 10 ke atas atau minggu depan kita bisa melihat penurunan jumlah kasusnya," jelas Hakam.

(rih/sip)