Cerita Bambang Pacul Kagumi Rachmawati hingga Harus 'Pisah Jalur'

Muchus Budi R. - detikNews
Sabtu, 03 Jul 2021 10:25 WIB
Rachmawati Soekarnoputri
Rachmawati Soekarnoputri. (Foto: Rahel Narda Chaterine/detikcom)
Solo -

Ketua DPP PDI Perjuangan, Bambang Wuryanto atau akrab disapa Bambang Pacul, memberikan kenangan khususnya terhadap almarhumah Rachmawati Soekarnoputri. Dia mengaku pernah sangat mengagumi dan mendukung penuh langkah Rachmawati hingga siap jadi volunteer, namun kemudian merasa kecewa lalu berpisah jalur perjuangan.

Bambang menceritakan saat Rachmawati merintis berdirinya Universitas Bung Karno (UBK) pada tahun 1983. Para alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) langsung menyatakan diri bergabung, karena mengetahui bahwa Rachmawati adalah trah Sukarno yang ditugasi mengembangkan dunia pendidikan.

"Sebagai kader-kader Bung Karno, kami menyatakan siap bergabung sebagai dosen volunteer, benar-benar sukarelawan yang tak perlu dibayar. Banyak saat itu yang menyatakan siap gabung. Dari (alumni) GMNI Yogyakarta ada saya, Ir Sugito, Riswanda Imawan, Tajuddin Noor, Nasikhun, Ibnu Subiyanto, dan puluhan bahkan ratusan kader Bung Karno lainnya dari seluruh Tanah Air," ujar Bambang Pacul kepada detikcom, Sabtu (3/7/2021).

Bambang Pacul menggambarkan semangat dan sambutan publik atas berdirinya UBK saat itu. Dia menyebut lebih dari 5 ribu calon mahasiswa melamar dan mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru tahun akademi 1983/1984.

Melihat antusias tersebut, rezim Orde Baru saat itu segera mengambil sikap melarang berdirinya UBK dengan tidak mengeluarkan izin operasional sebagai lembaga pendidikan.

UBK akhirnya baru bisa berdiri pada tahun 1999. Peresmiannya dilakukan oleh Presiden RI saat itu, BJ Habibie. Peresmian oleh Habibie inilah justru yang menjadi titik balik Bambang Pacul dan kawan-kawan untuk tak lagi bersedia bergabung. Habibie dinilai oleh Bambang masih sebagai kelanjutan rezim Orba.

"Kami tak lagi tertarik bergabung. Itu berdasarkan semangat perlawanan kami terhadap Orba dan sisa-sisanya. Kami jadi tidak happy lagi, akhirnya ya tak ada lagi kawan-kawan kader yang mau bergabung, khususnya yang dari Yogya. Elan juang sudah tak ada lagi ketika UBK mendekati kekuasaan saat itu. Kami memilih pisah jalur perjuangan," lanjut Bambang Pacul.

Setelah itu, kata Bambang, dirinya sama sekali tak pernah ada komunikasi dan obrolan apapun dengan Rachmawati. Padahal sebelum kejadian itu, Bambang mengaku sangat kagum dengan Rachmawati. Kekaguman kepada Rachmawati Soekarnoputri itu muncul baik sebagai anak Sukarno maupun pemikiran-pemikiran kritisnya untuk perjuangan.

"Pada tahun 1982-1983, setiap mendengar paparan dan orasi Mbak Rachma, siapapun kader Bung Karno pasti akan kagum dan terbakar semangatnya. Termasuk saya pastinya. Karena itulah kami siap bergabung volunteer ketika beliau mendirikan UBK, karena kami tahu beliau yang bertugas mengembangkan dunia pendidikan dari keluarga Bung Karno. Tapi setelah akhirnya UBK diresmikan Habibie, kami enggan gabung karena itu artinya sudah kalah. Setelah itu kami tak ada komunikasi lagi," papar Bambang Pacul.

(mbr/tor)