Sama-sama Pusing, Ini Beda Curhat Pembuat Peti Mati dengan Penjual Bunga

Achmad Syauqi - detikNews
Kamis, 01 Jul 2021 12:05 WIB
pembuat peti mati dan penjual bunga tabur di klaten
Penjual bunga tabur di Klaten. (Foto: Achmad Syauqi/detikcom)
Klaten -

Pandemi COVID-19 yang terus melanda membuat para pembuat peti mati dan penjual bunga tabur sama-sama pusing. Pembuat peti mati mengaku banyak pesanan namun sulit memenuhi karena kesulitan bahan baku dan perajin. Sedangkan penjual bunga sepi pembeli.

"Kendalanya kayu, kayu sulit kayak di-lockdown. Tukang gergaji mungkin pada kena COVID juga kayaknya," ungkap Perajin peti mati di Desa Keputran, Kecamatan Kemalang, Klaten, Riawanto, pada wartawan, Kamis (1/7/2021).

Menurut Riawan, pesanan peti mati diakuinya melonjak sejak sepekan terakhir. Biasanya permintaan cuma 10 biji saat ini menjadi 30 peti per hari. "Biasanya permintaan cuma 10 biji saat ini menjadi 30 peti per hari. Saya utamakan RS di Klaten dulu, kemarin ada dari Purwodadi dan yang ambil dari Boyolali," lanjut Riawan.

Meskipun pesanan naik, imbuh Riawan, kendala langkanya kayu jadi masalah. Pasokan kayu tidak mencukupi sehingga harus membeli di toko bangunan. "Pesanan naik tapi kayunya tidak memenuhi. Kita terpaksa beli dari toko bangunan dengan harga yang dua kali lipat, biasanya disetori oleh petani," sambung Riawan.

Dikatakan Riawan, akibat langka kayu harga peti melonjak dari Rp 300.000 jadi Rp 500.000 per unit. Namun demikian, diakui tidak bisa semua dipenuhi. "Kita tidak bisa penuhi semua permintaan, sebab paling sehari bisanya 10-15 peti. Ini saja sudah lembur sampai jam 23.00 WIB," pungkas Riawan.

pembuat peti mati dan penjual bunga tabur di klatenPembuat peti mati di Klaten (Foto: Achmad Syauqi/detikcom)

Beda lagi dengan keluhan penjual bunga tabur. Wiji, pedagang bunga dan kelengkapan pemakaman di Pasar kota Klaten mengatakan penjualan bunga dan payung sepi. Penyebabnya pemakaman prokes COVID-19 tidak menggunakan bunga.

"Sepi, sama saja. Banyak yang dimakamkan tapi tidak menggunakan bunga dan payung atau lainnya," kata Wiji kepada detikcom di lapaknya.

Padahal, ungkap Wiji, harga bunga sudah Rp 40.000-Rp 50.000 per kilogram dari petani. Banyak petani tidak panen. "Banyak tidak panen. Satu (plastik) kresek kecil harganya saya patok Rp 10.000 dan untuk payung Rp 25.000, wong yang beli tidak ada," lanjut Wiji.

Suyut, pedagang bunga lain mengatakan hal serupa. Omset pedagang bunga tidak otomatis naik di masa pandemi COVID-19 ini. "Sepi, sebab penjual banyak tetapi tidak ada yang beli. Yang pemakaman pun tidak semua pakai bunga dan kelengkapan," jelas Suyut kepada detikcom.

Simak video 'Dilema Perajin Peti Mati di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19':

[Gambas:Video 20detik]



(mbr/sip)