Terpopuler Sepekan

9 Fakta Geger Bocah Rusak Makam di Solo yang Diduga Aksi Intoleran

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 27 Jun 2021 09:29 WIB
Solo -

Warga dihebohkan dengan temuan 12 makam TPU Cemoro Kembar, Kelurahan Mojo, Pasar Kliwon, Solo yang rusak. Perusakan makam itu diduga sengaja dilakukan dan berkaitan dengan aksi intoleran terhadap agama lain.

Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka yang mendengar masalah itu langsung mengecek ke lokasi pada Senin (21/6). Dia merasa geram dan meminta kasus dibawa ke ranah hukum.

Berikut sejumlah fakta terkait perusakan makam di Solo:

1. Pelaku diduga anak-anak

Informasi yang dihimpun, perusakan dilakukan sekitar 10 anak di TPU Cemoro Kembar, Kelurahan Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, pada 16 Juni 2021. Mereka merusak batu nisan bersimbol agama di 12 makam.

Para bocah tersebut diketahui sebagai anak didik sebuah rumah belajar atau sekolah nonformal Islam (kuttab) yang tak jauh dari makam. Gibran mengatakan proses hukum bakal dilakukan kepada guru dan anak-anak tersebut.

"Iya (bentuk intoleransi). Ngawur banget. Apalagi melibatkan anak-anak. Nanti segera kami proses," ujar Gibran saat meninjau lokasi makam, Senin (21/6/2021).

2. Gibran minta rumah belajar ditutup

Gibran juga menyoroti keberadaan rumah belajar atau sekolah tersebut. Dia mengaku akan menutup sekolah itu karena tidak memiliki izin dari pemerintah.

"Tutup aja. Dah nggak bener sekolahnya, gurunya," ujarnya.

3. Rumah belajar dianggap langgar prokes

Selain karena ajarannya yang dianggap melenceng, rumah belajar itu juga ditutup karena melanggar protokol kesehatan. Gibran mempertanyakan bagaimana rumah belajar tersebut bisa beroperasi dengan leluasa di tengah pandemi COVID-19.

"Sekolahnya apa sudah berizin, kok selama penutupan seperti ini dia bisa PTM (pembelajaran tatap muka). Izinnya seperti apa, yang lain tutup kok bisa PTM. Dari prokesnya aja sudah nggak tepat," kata Gibran usai rapat bersama Satgas COVID-19 di Balai Kota Solo, Selasa (22/6).

4. Anak-anak akan dibina

Gibran pun menyerahkan penanganan kasus perusakan batu nisan pada 12 makam tersebut kepada kepolisian. Namun dia menginginkan agar anak-anak yang belajar di sekolah itu dibina.

"Pokoknya saya kembalikan ke Pak Kapolres. Yang penting ahli waris sudah ketemu, dari pihak sekolah juga sudah bersedia mengganti dengan yang baru," kata Gibran.

"Tapi proses nggak berhenti di situ, anak-anaknya seperti apa ke depan. Kan harus dibina, guru-gurunya harus diproses juga. Yang jelas anak yang kemarin akan kami bina dan diluruskan mindset-nya," imbuhnya.

5. Makam yang dirusak akhirnya diperbaiki

Masyarakat sekitar dan berbagai pemangku kepentingan gotong royong kemudian memperbaiki makam yang rusak, Rabu (23/6). Puluhan warga bersama aparat Polresta Solo, Kodim 0735/Solo dan Pemkot Solo bersama-sama bekerja bakti di permakaman TPU Cemoro Kembar.

"Ini budaya tradisi budaya wong Solo, toleran dan guyup rukun. Kita sepakat walaupun bukan saudara seiman, kita tetap saudara setanah air dan saudara dalam kemanusiaan," kata Kapolresta Solo Kombes Ade Safri Simanjuntak.

6. Polisi periksa 23 orang

Kapolresta Solo Kombes Ade Safri Simanjuntak menyebut sudah ada 23 orang telah diperiksa polisi sebagai saksi terkait kasus ini. Mereka antara lain pengasuh kuttab dan warga sekitar.

"Perkembangan kasus ini, tim penyidik Satreskrim Polresta Solo masih melakukan upaya penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut. Sudah ada 23 saksi yang diperiksa untuk dimintai keterangan," kata Ade Safri usai menghadiri rapat Forkopimda di Makorem 074/Warastratama, Solo, Kamis (24/6).

Selangkapnya di halaman selanjutnya...