Pura-pura Jadi Jenderal, Mantan Buruh Pabrik Diciduk Polisi di Sragen

Andika Tarmy - detikNews
Jumat, 25 Jun 2021 16:31 WIB
Ilustrasi ijazah palsu
Foto: Ilustrasi pemalsuan
Sragen -

Pura-pura jadi anggota TNI berpangkat mayjen, seorang pria mantan buruh pabrik diciduk polisi di Sragen, Jawa Tengah. Pelaku mengaku nekat menggunakan atribut militer palsu karena terobsesi usai tiga kali gagal mendaftar TNI.

TNI gadungan tersebut berinisial H (42) asal Lampung. Pelaku yang kesehariannya tinggal di wilayah Jakarta Timur ini diamankan saat pulang ke keluarga istrinya di Kecamatan Gemolong, Sragen, Rabu (23/6).

Usai diamankan, petugas kemudian membawa pelaku ke Polsek Gemolong. Pelaku diamankan berikut dengan baju dinas loreng berpangkat Mayjen TNI dengan kesatuan Kopassus.

"Yang bersangkutan diamankan oleh anggota TNI dari Koramil Gemolong usai mendapatkan laporan dari anggota masyarakat. Karena Koramil kan tidak memiliki kewenangan menyidik, sehingga yang bersangkutan dibawa ke Polsek Gemolong," ujar Kapolsek Gemolong AKP I Ketut Putra, saat dihubungi detikcom, Jumat (25/6/2021).

Kepada petugas, pelaku mengaku nekat memakai baju loreng untuk kebanggaan sendiri. Yang bersangkutan mengaku terobsesi menjadi anggota TNI sejak kecil, dan tiga kali mendaftar namun selalu gagal.

"Yang bersangkutan terobsesi menjadi anggota TNI. Tiga kali mendaftar sebagai anggota TNI AD namun gagal lulus," jelas Ketut.

Berdasarkan keterangan pihak istri, lanjutnya, pelaku mulai sering menggunakan atribut TNI usai keluar dari pabrik tempatnya bekerja. Sebelumnya pelaku bekerja sebagai buruh pabrik di daerah Bekasi.

"Keterangan dari istrinya, pada saat menikah sudah tahu suaminya bekerja sebagai buruh di pabrik. Yang bersangkutan mulai sering menggunakan seragam TNI sekitar dua tahun setelah tidak bekerja di pabrik," terangnya.

Ketut menyebut, hasil interogasi petugas, pelaku tidak pernah menggunakan atribut TNI tersebut untuk melakukan tindak pidana. Pelaku disinyalir memakai atribut TNI hanya untuk gagah-gagahan saja.

"Kemungkinan yang bersangkutan tidak tahu kepangkatan juga. Sekarang logikanya kalau orang tahu (pangkat), Mayjen TNI naik bus umum apakah masuk akal? Karena dia tidak tahu kepangkatan yang penting ada pakaian TNI dipakai saja," beber Ketut.

Berdasarkan keterangan pihak istri, lanjutnya, seragam TNI tersebut dibeli sendiri oleh pelaku. Namun keterangan pelaku, seragam tersebut merupakan pemberian salah seorang temannya.

Ketut mengatakan karena tidak menemukan tindak pidana dalam kasus tersebut, polisi akhirnya mengembalikan pelaku kepada keluarga. Sementara baju seragam militer milik pelaku diamankan pihak polisi militer (PM).

"Setelah kita interogasi, korban pun tidak ada. Yang bersangkutan belum pernah melakukan tindak pidana juga. Kecuali nanti ada korban, ada yang dirugikan, menipu atau menggelapkan barang kita bisa proses. Untuk pakaian (seragam) sudah disita oleh PM Sragen," jelas Ketut.

(sip/rih)