Ganjar Akui Lonjakan Kasus Corona di Kudus Sempat Bikin Panik

Aditya Mardiastuti - detikNews
Kamis, 17 Jun 2021 17:24 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Kudus, Minggu (13/6/2021).
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Kudus, Minggu (13/6/2021). (Foto: Dian Utoro Aji/detikcom)
Yogyakarta -

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menceritakan lonjakan kasus COVID-19 di Kudus menimbulkan kepanikan. Terlebih saat Corona varian India atau delta ditemukan.

"Ketika Kudus mengalami situasi ini (krisis nakes dan alas medis) panik, bukan tidak mampu tapi panik, memang kapasitasnya (ruang perawatan) tinggi. Lupa sebenarnya kami bisa me-manage semacam SOP tempat tidur, yang kemarin khusus untuk COVID dan non-COVID. Non-COVID yang lebih banyak sebenarnya bisa kita pindah untuk pasien COVID," kata Ganjar dalam Webinar Kebijakan Pemerintah Daerah, Peluang, Tantangan, dan Kepemimpinan di Masa dan Pasca Pandemi COVID-19, Kamis (17/6/2021).

"Maka kemudian kemarin TNI-Polri turun, BNPB turun, kemudian Kemendagri memberikan instruksi dan tugas kami mengeksekusi," sambungnya.

Krisis tenaga medis dan alat medis di Kudus itu kemudian dibantu dengan sinergi pemerintah pusat dan provinsi maupun daerah sekitar Kudus. Kala itu, kata Ganjar, Pemkot Semarang dan Pemkab Demak turun menawarkan bantuan.

"Kami komunikasi cukup intens dan teman-teman kabupaten/kota mendukung in case yang di Kudus. Waktu itu paling support Kota Semarang, Demak mencoba membantu tapi dia sendiri mengalami hal serupa demikian juga daerah di sekitarnya," ucap Ganjar.

Data kasus Corona di Kudus per 16 Juni 2021Data kasus Corona di Kudus per 16 Juni 2021 Foto: tangkapan layar Webinar Kebijakan Pemerintah Daerah, Peluang, Tantangan, dan Kepemimpinan di Masa dan Pasca Pandemi COVID-19, Kamis (17/6/2021).

Ganjar pun menginstruksikan setiap kabupaten/kota untuk saling bersinergi menangani COVID-19 dengan penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro. Ganjar mengaku tengah melobi pihak kampus untuk mengizinkan mahasiswa tingkat akhir menjadi relawan.

"Jadi krisis nakes ini kami kerja sama dengan IDI, persatuan perawat. Jadi 3 perguruan tinggi negeri yang punya fakultas kedokteran kami mintakan agar dokter-dokter intensif sekarang mulai kita masukkan termasuk sekolah perawat di semester terakhir kita masukkan. Saya lagi mem-propose pihak kampus agar yang mengerjakan tesis atau skripsi bisa digantikan dengan pelayanan di masyarakat," terang dia.

Selain itu Ganjar menginstruksikan tiap pemerintah daerah untuk menambah ketersediaan ruang isolasi dan perawatan rumah sakit. Dia juga mengerahkan organisasi perangkat daerah (OPD) Provinsi Jateng untuk menjadi tim pengawas tiap kabupaten.

"Tanda tangan SOP kerahkan tenaga ke desa-desa, OPD 1 tingkat kabupaten/kota, 1 OPD untuk memonitor. Jadi OPD kami bagi untuk memantau kabupaten-kabupaten untuk mengontrol. Jadi kalau OPD ikut membantu mengawasi mungkin secara leadership dan managerial akan jadi ekstrakurikuler bagi ASN," tutupnya.

Lihat juga Video: 35 Santri di Boyolali Kena Corona Usai Terima Tamu dari Kudus

[Gambas:Video 20detik]



(ams/sip)