Asrama BPSDMD Jateng Dipakai Isolasi Corona, Ratusan Kamar Sudah Terpakai

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Kamis, 17 Jun 2021 12:34 WIB
Asrama di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Semarang dipakai sebagai asrama Corona, Kamis (17/6/2021).
Asrama di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Semarang dipakai sebagai asrama Corona, Kamis (17/6/2021). (Foto: dok Pemprov Jateng)
Semarang -

Provinsi Jawa Tengah membuka kompleks Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Jateng di Banyumanik Kota Semarang untuk tempat isolasi penderita virus Corona atau COVID-19. Ada empat asrama di kompleks itu yang dibuka dengan kapasitas sekitar 502 tempat tidur.

"Ini tempatnya bagus, satu area, jadi kita optimalkan semuanya. Kalau perlu kita cari satu tempat untuk dokter dan perawat yang dekat, kita tata lagi. Jadi kalau nanti terjadi outbreak kemudian situasi berat karena tren peningkatan sangat eksponensial, kita masukkan sini semua," kata Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Kamis (17/6/2021).

Ratusan kamar di empat asrama tersebut sudah terisi. Rinciannya, Asrama Sumbing yang terdiri atas tiga gedung dengan kapasitas sekitar 170 tempat tidur dan saat ini sudah terisi penuh. Kemudian Asrama Muria dengan kapasitas sekitar 62 tempat tidur kini hanya menyisakan 6 tempat tidur. Selanjutnya Asrama Sindoro dengan kapasitas sekitar 220 tempat tidur dan Merapi sekitar 50 tempat tidur.

"Untuk Sindoro ini sudah dipesan oleh Kabupaten Semarang karena dekat (aksesnya), bupati sudah kontak dan saya izinkan agar bisa membantu kawan-kawan di sana. Kita juga masih punya Merapi sehingga nanti kalau dalam situasi yang membutuhkan, kawan-kawan di sini sudah siap," jelas Ganjar.

Ganjar menambahkan saat ini sedang mencari tambahan tengah medis. Bantuan sudah diberikan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Namun tambahan masih diperlukan.

"Kami temukan di sini (BPSDMD) ada relawan dari Poltekkes, mereka mahasiswa tingkat akhir. Saya kira ini cara yang baik dan kalau ini bisa diberikan satu kesempatan kepada mereka mengabdi untuk kemanusiaan, baik juga mereka bisa diterjunkan," ujarnya.

Ganjar mengusulkan agar mahasiswa tingkat akhir dikerahkan menjadi relawan. Pihak kampus diminta bisa memberikan kebijakan kepada mahasiswa yang membantu penanganan COVID-19 karena kondisi saat ini sedang darurat.

"Saya kira dari kementerian juga bisa didorong. Dalam kondisi kedaruratan ini insentif yang bisa diberikan kepada mereka adalah praktik di sini dan bisa menggantikan skripsi atau tesis yang ia akan siapkan. Kalau itu bisa di-BKO-kan, apakah itu mahasiswa akhir di kedokteran atau keperawatan. Tinggal menyiapkan mentor-mentor untuk membantu dan saya kira mereka punya pengalaman dan ilmu yang cukup bagus. Maka pada rapat Senin lalu kita minta untuk kerja sama dengan perguruan tinggi sehingga bisa menyuplai banyak kebutuhan itu," urai Ganjar.

(sip/ams)