Mengulik Kisah Sunan Kudus Sembuhkan Wabah Penyakit di Arab

Dian Utoro Aji - detikNews
Sabtu, 12 Jun 2021 19:25 WIB
Kompleks Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus. Foto diambil Sabtu (12/6/2021).
Kompleks Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus (Foto: Dian Utoro Aji/detikcom)
Kudus -

Sosok Sunan Kudus atau Syekh Jafar Shodiq merupakan seorang salah satu Wali Songo penyebar agama Islam di Nusantara. Ada sepenggal kisah tentang Sunan Kudus yang mampu menghilangkan sebuah wabah penyakit di Arab Saudi. Seperti apa kisahnya?

Dosen Filsafat dan Budaya di IAIN Kudus, Nur Said mengatakan ada cerita turun-temurun terkait dengan sosok Sunan Kudus. Terutama saat Sunan Kudus mampu menghilangkan wabah penyakit di Arab.

"Itu kan folklore bagian dari data, jadi cerita kisah apapun dari sesepuh kan sebuah sumber. Itu cara mencapai cerita, saya kira sangat populer bagi masyarakat," jelas Kang Said begitu sapaan akrabnya saat dihubungi detikcom lewat sambungan telepon, Sabtu (12/6/2021).

Menurutnya selama ini Sunan Kudus dikenal dengan seorang wali penyebaran agama Islam Nusantara. Sunan Kudus pun terkenal dengan kisah toleransi antar umat beragama. Namun ternyata Sunan Kudus juga ahli dalam pengobatan.

"Jadi itu jarang ditonjolkan, Sunan Kudus selama ini diprofilkan seorang senopati Demak, kemudian penyebar agama Islam yang toleran dan itu cukup terkenal. Tapi bahwa Sunan Kudus seorang ahli pengobatan dan mengatasi wabah itu juga belum digali lebih lanjut," sambungnya.

Kang Said yang merupakan penulis buku The Minaret of Kudus, a Massage of Peace from Indonesia for World menjelaskan kisah Sunan Kudus mampu menghilangkan wabah penyakit saat Sunan Kudus melaksanakan ibadah haji di Arab. Pada saat itu konon di Arab sedang terjadi wabah penyakit.

"Kisah cerita itu terjadi saat di Arab, Sunan Kudus sedang menjalankan ibadah haji. Kebetulan masyarakat sedang menghadapi wabah penyakit, ternyata (berkat) Sunan Kudus wabah itu bisa dikendalikan," jelasnya.

Atas jasanya Sunan Kudus mendapatkan jabatan dari penguasa di Arab, namun jabatan itu ditolak. Kang Said menuturkan Sunan Kudus konon hanya menerima batu. Batu tersebut pun yang kemudian dijadikan mihrab masjid yang terdapat inskripsi tentang pendirian Masjid Menara pada tahun 956 H atau 1549 Masehi.

"Bahkan Sunan Kudus mendapatkan, penguasa sana memberikan hadiah sebuah jabatan. Sunan Kudus tidak mau, dan Sunan Kudus menerima batu, yang kemudian (batu itu) menjadi tetenger (tanda) berdirinya Masjid Sunan Kudus," ucapnya.

"Karena cita-cita kembali ke Kudus, inskripsi batu itu menjadi batu bukti menangani wabah di Arab waktu itu. Generasi kita perlu untuk menggali kisah seperti ini," lanjut Kang Said.

Kang Said pun berharap agar pandemi virus Corona ini segera berakhir. Sehingga kondisi kembali normal kembali.

"Tantangan kalangan santri untuk melakukan penelitian Sunan Kudus pada aspek pengobatan. Ke depan konteks Sunan Kudus berdakwah seperti apa, sehingga kearifan-kearifan itu digali lebih jauh, supaya generasi santri ke depan memiliki keahlian disiplin keilmuan termasuk ilmu medis, kalau bahasa kitab, ilmu kesehatan ilmu kedokteran," ujar Kang Said yang juga merupakan Ketua Lakpedam NU Kudus.

Diketahui untuk wisata religi di Kompleks Makam, Menara, dan Masjid Sunan Kudus ditutup sementara. Hal tersebut dilakukan untuk memutus penyebaran virus Corona atau COVID-19 di Kudus yang tengah naik tajam.

(ams/ams)