Kalah Lagi di Sengketa Sriwedari, Gibran Bakal Minta Bantuan Jokowi?

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Kamis, 10 Jun 2021 18:25 WIB
Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka. Foto diambil Rabu (2/6/2021)
Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka. (Foto: Ari Purnomo/detikcom)
Solo -

Sudah 15 kali Pemerintah Kota (Pemkot) Solo kalah melawan ahli waris Wiryodiningrat dalam sengketa lahan Sriwedari. Akankah Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, bakal meminta bantuan Presiden Joko Widodo?

Saat dijumpai di kawasan Jebres, Gibran mengatakan akan terus memperjuangkan lahan Sriwedari. Dia menegaskan tidak akan melepas lahan Sriwedari.

"Ya kita harus berjuang lagi, nggak apa-apa, kita lanjutkan perjuangannya. Nggak akan kita lepas juga," kata Gibran kepada detikcom, Kamis (10/6/2021).

Gibran juga belum memiliki rencana berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk menentukan langkah selanjutnya. Saat ditanya soal bantuan dari Jokowi yang juga ayahnya, Gibran mengatakan akan menangani kasus itu sendiri.

"Nanti lah pokoknya kita kawal terus. Kita handle sendiri," jawab Gibran.

Diberitakan sebelumnya, Pengadilan Negeri (PN) Solo memutuskan menolak gugatan yang diajukan oleh Pemkot Solo, Rabu (9/6). Alasannya adalah ada dua ahli waris yang menjadi tergugat sudah meninggal dunia.

Kuasa hukum ahli waris Wiryodiningrat, Anwar Rachman mengatakan, tidak diterimanya gugatan Pemkot ini menjadi kekalahan Pemkot melawan ahli waris untuk yang ke-15 kalinya.

Menurutnya, putusan majelis hakim bukan pokok perkara kepemilikan lagi melainkan perlawanan terhadap sita. Sehingga dia berharap eksekusi lahan Sriwedari bisa segera dilakukan.

"Artinya kita sudah diuji sedemikian rupa, baik formil maupun materil dan ternyata Pengadilan mengalahkan lagi Pemkot, kekalahan yang ke-15, satupun tidak pernah menang," ujar Anwar kemarin.

Anwar menerangkan salah satu pertimbangan hakim menolak gugatan Pemkot karena 2 di antara 11 ahli waris sudah meninggal dunia.

"Ya tadi pertimbangan hakim karena dua tergugat ahli waris ini sudah meninggal, disuruh ganti tidak mau. Ya tidak bisa orang yang sudah meninggal digugat," terangnya.

Lantas kapan lahan seluas 10 hektare itu akan dieksekusi? Anwar mengatakan eksekusi akan dilakukan usai pandemi COVID-19 rampung.

"Begitu COVID-19 selesai langsung dieksekusi, kemarin berhenti (eksekusi) bukan karena gugatan tetap jalan terus karena tidak menghentikan eksekusi," katanya.

Aset di atas lahan Sriwedari jadi milik ahli waris

Mengenai aset-aset yang ada di dalam lahan seluas 10 hektare itu Anwar menambahkan, semuanya menjadi milik ahli waris. Termasuk masjid Sriwedari, stadion R Maladi dan bangunan lain yang ada di dalamnya.

Keputusan tersebut merupakan perintah dari pengadilan. Bahwa lahan dengan batas-batas yang sudah ditentukan termasuk aset bangunan diserahkan kepada ahli waris.

"Bila perlu dengan bantuan alat negara, tidak ada perintah pembongkaran. Jadi itu harus diserahkan, dibersihkan dari penghuni maupun barang-barang penghuni," ucap Anwar.

Anwar meminta Pemkot Solo untuk mematuhi aturan hukum yang ada. Dengan mengikuti aturan tersebut menurutnya, Pemkot juga akan memberikan contoh yang baik bagi masyarakat.

"Kita mohon, sudahlah, kita berikan contoh kepada masyarakat, kalau pejabat itu taat pada hukum taat pada aturan. Jangan hanya rakyat yang taat hukum," cetus dia.

(ams/sip)