Bikin Terenyuh, Kisah Mbah Waluyo 10 Tahun Tinggal di Tengah Permakaman

Jalu Rahman Dewantara - detikNews
Rabu, 02 Jun 2021 18:41 WIB
Mbah Waluyo, tinggal di tengah pemakaman umum Kulon Progo, Rabu (2/6/2021).
Mbah Waluyo, tinggal di tengah permakaman umum Kulon Progo, Rabu (2/6/2021). (Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikcom)
Kulon Progo -

Seorang pria lanjut usia (lansia) di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah tinggal dan menetap di tengah area permakaman umum selama 10 tahun terakhir. Waluyo (68) nama pria itu, mengaku menjalani aksi ini karena ingin menebus rasa bersalah terhadap mendiang orang tuanya. Bagaimana kisahnya?

Sekilas tak ada yang aneh di area pemakaman umum Dusun Karang Tengah Kidul, Kalurahan Margosari, Kapanewon Pengasih, Kulon Progo. Dari luar nampak ratusan nisan berjejer rapi dengan aneka ornamen yang menghiasinya. Terdapat pula aneka pohon yang biasa tumbuh di area permakaman, seperti pohon kamboja, puring, hingga kantil.

Namun jika kita masuk ke tengah area makam, bakal menemukan sebuah bangunan bercat hijau yang di dalamnya terdapat sejumlah nisan. Bangunan yang biasa disebut cungkup itu menjadi tempat Waluyo tinggal selama satu dasawarsa terakhir.

Saat ditemui detikcom, Rabu (2/6/2021) sore, Waluyo tengah bersantai di atas karpet merah lusuh yang terbentang di pelataran cungkup. Karpet itu menjadi alas tidur lelaki kelahiran 1957 tersebut.

"Ya di sinilah saya tidur mas, di dalam (menunjuk sisi dalam bangunan cungkup) jadi tempat penyimpanan baju, kalau urusan mandi cuci, kakus, nunut (menumpang) di sumur sebelah makam," kata Waluyo.

Waluyo sudah tinggal di situ sejak 2011 silam. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, pria bertubuh tambun ini bekerja serabutan. Paling sering jadi kuli bangunan. Pantang baginya meminta uang secara cuma-cuma. "Alhamdulillah rejeki itu selalu ada mas, yang penting ada usaha dulu," ujarnya.

Tinggalkan Keluarga Demi Menebus Kesalahan

Masa kecil Waluyo dihabiskan di Karang Tengah Kidul. Beranjak dewasa, ia memutuskan merantau ke Lampung. Aksinya itu dilakukan pada tahun 1976 atau dua tahun setelah ayahnya meninggal dunia.

Di tanah rantau itu, Waluyo memulai hidup baru. Ia bekerja, mencari nafkah, untuk menghidupi istri dan enam anaknya. Hal itu ia jalani selama puluhan tahun. Selama itu pula ia jarang sekali pulang ke kampung halamannya. Hingga suatu hari muncul rasa rindu dan bersalah di benak Waluyo.

"Saat itu saya jadi kepikiran orang tua, kebetulan kan saya ini anak tunggal, saat akhirnya merantau tentu orang tua tinggal sendiri, makam bapak juga jarang dirawat, di situ saya merasa bersalah, puluhan tahun tidak pulang," ucapnya.

Dari perasaan itu, Waluyo memantapkan tekad untuk kembali ke tanah kelahirannya. Sekitar pertengahan 2011 ia akhirnya pulang, tetapi tidak ke bekas rumahnya dulu, melainkan ke makam ayah dan leluhurnya di Karang Tengah Kidul.

Saat itu kata Waluyo, kondisi makam sangat memprihatinkan. Di sekelilingnya banyak ditumbuhi tanaman liar. Singkatnya makam tak terurus. Dari sinilah Waluyo lantas berikrar, bakal mengurus makam tersebut hingga terlihat layak. Sebelum masa itu tiba, ia berjanji tidak akan pulang ke Lampung.

Mbah Waluyo puasa 40 hari 40 malam di cungkup makam...

Tonton juga Video: Kambing di Kulon Progo Punya 7 Kaki dan 2 Kelamin

[Gambas:Video 20detik]