Perjuangan Pengantin Jemput Pasangannya Terjang Banjir Rob di Demak

Mochamad Saifudin - detikNews
Minggu, 30 Mei 2021 19:09 WIB
Pengantin menerjang banjir rob di Demak, Minggu (30/5/2021).
Pengantin menerjang banjir rob di Demak, Minggu (30/5/2021). (Foto: Tangkapan layar video viral)
Demak -

Video sepasang pengantin di Desa Morodemak, Kecamatan Bonang, Demak, Jawa Tengah menaiki gerobak kayu didorong warga beserta iring-iringan rebana di tengah banjir rob beredar di media sosial. Meski harus melintasi genangan rob, nampak wajah bahagia menyelimuti pasangan pengantin berserta rombongan pengiringnya.

Sekretaris Desa Morodemak, Mohammad Syaifudin mengatakan, menceritakan tradisi pernikahan desa setempat selalu dilaksanakan dengan iring-iringan pengantin pria menjemput mempelai wanita.

"Jadi kalau prosesi pernikahan antar sesama warga Morodemak, memang diiring, menjemput mempelai putri. (mempelai) Putra bersama dengan rombongan membawa seserahan menuju ke rumah mempelai perempuan, lalu diserahkan. Kemudian mempelai perempuan dibawa oleh mempelai putra," ujar Syaifudin kepada detikcom melalui telepon, Minggu (30/5/2021).

Syaifudin membenarkan momen pernikahan yang videonya beredar di media sosial itu terjadi di desanya pada Sabtu (29/5) sekitar pukul 16.00 WIB. Mempelai putra yakni bernama Bukhori genangan rob berjarak sekitar 500 meter hingga sampai ke rumah mempelai putri bernama Aisyah.

Syaifudin mengatakan, iring-iringan pengantin itu menerjang genangan rob di jalan desa dengan ketinggian 50 hingga 60 cm.

Pengantin menerjang banjir rob di Demak, Minggu (30/5/2021).Pengantin menerjang banjir rob di Demak, Minggu (30/5/2021). Foto: Tangkapan layar video viral

"Iya, sesrahan tadi dibawa oleh iring-iringan. Semakin kaya orangnya semakin banyak sesrahan yang dibawa. Kadang ada kulkas, kasur dan lainnya," ujarnya.

Dia juga menjelaskan kondisi daratan Morodemak saat ini hampir semuanya terdampak rob. Syaifudin menyebut desanya yang memiliki penduduk sejumlah 6.800 jiwa tersebut, rata-rata jalan, kampung, bangunan rumahnya sudah tergenang air rob.

"Morodemak itu ada 32 RT dan 5 RW, hampir semuanya tenggelam sekarang. Bangunan rumahnya sekitar 90 persen sudah terdampak rob, karena permukiman warganya yang padat jadi satu," terangnya.

Syaifudin melanjutkan, banjir rob di Desa Morodemak terjadi setiap bulan. Padahal sebelumnya banjir rob hanya terjadi di desanya pada sekitar empat bulan tertentu dalam setahun. Dirinya juga menyebut banjir rob yang menggenangi wilayahnya datang di waktu-waktu yang tak menentu.

"Dulu, (rob terjadi) April, Mei, Juni, Juli, sekarang setiap bulan selalu datang. Antara perkiraan 10-15 hari dalam sebulan dengan ketinggian 30-70 cm. Selain itu, datangnya rob tiap bulan tidak menentu dalam sehari. Kadang datang pagi, sore, siang, malam. Durasi rob terjadinya sekitar 5 jam," terangnya.

Syaifudin menduga salah satu faktor yang menyebabkan banjir rob di Desa Morodemak semakin parah yakni pembangunan atau peninggian jalan utama kabupaten menuju di Desa Purworejo menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI).

"Karena sebelum adanya pembangunan jalan, rob bisa dibagi, sekarang rob ke Morodemak semua. Tapi sejak 2018 sudah terjadi rob setiap bulannya," tuturnya.

Kendati demikian, pihaknya mengaku setiap tahun melakukan peninggian jalan. Pihaknya juga mengungkap ada rencana pembendungan atau membuat talud.

"Rencananya di desa itu memutar talud semua. Jadi talud bendung desa, targetnya 2022 selesai," ujarnya.

Pihaknya berharap Pemkab Demak dapat membuat aturan terkait banjir rob sebagai kriteria bencana. Sehingga pemerintah dapat memaksimalkan anggaran untuk wilayah terdampak rob yang semakin tenggelam. "Hari ini rob tidak disebut sebagai bencana kan?" pungkas Syaifudin.

(sip/sip)