Anak di Banyumas Meninggal Diduga Akibat Kecanduan HP, Ini Kata Dokter

Arbi Anugrah - detikNews
Rabu, 26 Mei 2021 10:05 WIB
CHIBA, JAPAN - SEPTEMBER 20:  A booth attendant plays a video game on a smartphone during the Tokyo Game Show 2018 on September 20, 2018 in Chiba, Japan. The Tokyo Game Show is held from September 20 to 23, 2018.  (Photo by Tomohiro Ohsumi/Getty Images)
Ilustrasi (Foto: Tomohiro Ohsumi/Getty Images)
Banyumas -

Seorang anak berusia 12 tahun di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, meninggal diduga akibat kecanduan HP. Anak tersebut meninggal pada Selasa (25/5) kemarin.

Kepala desa setempat, inisial S, mengatakan berdasarkan keterangan keluarga, anak itu sempat dirawat di RSUD Banyumas.

"Sempat dirawat di rumah sakit Banyumas. Saya kemarin juga sempat jenguk ke rumah duka. Keterangan dari ibunya itu jadi siang malam tidak terlepas dari handphone. Gitu saja keterangannya. Lalu dibawa ke rumah sakit katanya syaraf," kata S saat dihubungi detikcom, Rabu (26/5/2021).

Dia mengatakan, setelah itu, masih berdasarkan keterangan keluarga, anak itu sempat merasakan tidak enak badan hingga akhirnya drop dan dilarikan ke rumah sakit.

"Nah kalau mainan game online apa saya juga tidak tahu persis, yang jelas pegang HP itu saja. Itu mulai terasa tidak enak badan hari raya (lebaran) kedua. Setelah itu langsung drop berkurang, berkurang, berkurang," jelasnya.

Meskipun demikian, dirinya tidak mengetahui secara pasti meninggalnya anak itu disebabkan karena apa.

"Kalau secara jelas saya tidak bisa tahu, untuk diagnosa dia kecanduan atau tidak itu dokter. Kalau saya hanya sepintas dengar saja. Kalau secara formal itu yang bisa menjelaskan pihak rumah sakit," ucapnya.

Dikonfirmasi terpisah, Wakil Direktur Pelayanan RSUD Banyumas dr Rudi Kristiyanto membenarkan bahwa anak tersebut sempat menjalani perawatan di RSUD Banyumas pada tanggal 16-17 Mei 2021. Pasien tersebut didiagnosis mengalami gangguan mental organik (GMO) dan encephalitis.

"Pasien tersebut didiagnosis gangguan mental organik dan encephalitis. Itu berdasarkan rapat bersama antara dokter spesialis jiwa dengan dokter spesialis anak. Pasien tersebut diprogram karena ada gangguan mental organik dan encephalitis, jadi diprogramlah CT scan dengan obat-obatan yang sudah dijalankan," ujarnya.

Dengan itu, lanjut dia maka obat-obatan masuk sesuai dengan indikasi medisnya ditambah dengan program CT scan untuk penegakan diagnosis tersebut. Dengan harapan pengobatannya dapat lebih detail.

"Tapi untuk kasus ini, pasien tidak jadi dilakukan CT scan karena penolakan CT scan, dan meninggalnya di rumah karena menolak tindakan untuk penegakan diagnosis," jelasnya.

Dia menjelaskan secara umum gangguan yang muncul akibat aktivitas berlebih dengan game memang ada dalam dunia medis. Gangguan game didefinisikan dalam revisi ke-11 dari Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD-11), yakni sebagai pola perilaku bermain game yang ditandai dengan gangguan kontrol atas game.

Gangguan tersebut menimbulkan konsekuensi negatif pada pola perilaku, kerusakan signifikan dalam bidang fungsi pribadi, keluarga, sosial, pendidikan, pekerjaan atau penting lainnya dan biasanya akan terbukti setidaknya selama 12 bulan.

Sedangkan diagnosis pada anak tersebut adalah gangguan mental organik dan encephalitis. Diagnosis medis tersebut sudah sesuai dengan standar internasional berdasarkan WHO.

"Itu istilah medis, gangguan mental organik itu gangguan mental yang disebabkan kelainan organik, organiknya encephalitis itu. Encephalitis itu gangguan pada otak," ucapnya.

Simak juga 'Kasus Gangguan Kesehatan yang Diviralkan Efek Kecanduan Game':

[Gambas:Video 20detik]



(rih/rih)